Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami kejatuhan yang cukup signifikan dalam perdagangan terbaru. Penurunan harga saham BYAN ini ditengarai terjadi akibat beredarnya rumor liar terkait rencana akuisisi yang akan dilakukan oleh Jhonlin Grup. Jhonlin Grup sendiri merupakan entitas bisnis yang dimiliki oleh konglomerat asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Haji Isam. Rumor tersebut rupanya langsung direspons oleh pasar setelah manajemen perseroan memberikan klarifikasi resmi.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari RTI Business, pergerakan saham BYAN tercatat melemah sebesar 6,95% dan parkir di level harga Rp 16.075 per lembar saham pada penutupan perdagangan Sesi I. Tekanan jual terhadap saham BYAN sebenarnya sudah terasa sejak awal pembukaan perdagangan hari itu. Pada pembukaan transaksi, harga saham BYAN sempat merosot tajam hingga 14,91% ke level Rp 14.700 per saham. Penurunan ini terbilang sangat drastis jika dibandingkan dengan harga penutupan pada hari sebelumnya, yakni Selasa (18/8/2026), di mana saham BYAN masih bertengger di level Rp 17.275 per saham.
Sepanjang perdagangan hingga penutupan Sesi I, aktivitas transaksi saham BYAN terpantau cukup ramai. Volume perdagangan saham emiten ini tercatat mencapai 3,79 juta lembar saham. Dari volume perdagangan tersebut, nilai transaksi yang dibukukan oleh saham BYAN menyentuh angka Rp 61,63 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangan saham BYAN di pasar modal juga terpantau tinggi, dengan total transaksi yang dilakukan oleh para investor mencapai sebanyak 5.251 kali hingga berakhirnya sesi pertama perdagangan.
Mirae Asset Sekuritas, Pasar Domestik Berpeluang Menguat pada Semester II 2026

Penurunan tajam ini terjadi di tengah tren positif yang sebenarnya sempat dinikmati oleh saham BYAN dalam beberapa waktu terakhir. Sebelum rumor akuisisi ini memicu aksi jual, saham BYAN telah mencatatkan kinerja yang cukup gemilang di lantai bursa. Dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir, saham BYAN terpantau mengalami penguatan sebesar 33,68%. Persentase kenaikan yang sama, yakni akumulasi penguatan sebesar 33,68%, juga berhasil dicatatkan oleh saham BYAN selama satu bulan terakhir perdagangan. Sementara itu, jika ditarik lebih jauh ke belakang, dalam tiga bulan terakhir perdagangan, saham BYAN masih mencatatkan akumulasi kenaikan yang positif sebesar 35,65%.
Klarifikasi resmi dari manajemen BYAN mengenai rumor akuisisi ini pertama kali dipublikasikan melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Penjelasan tertulis tersebut disampaikan kepada publik setelah penutupan perdagangan pada hari Selasa (18/19) pukul 18.56 WIB. Dalam klarifikasi tersebut, manajemen perseroan secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui informasi apa pun mengenai kabar akuisisi saham oleh pihak Jhonlin Grup. Manajemen BYAN juga menambahkan bahwa pihaknya sama sekali tidak memiliki informasi terperinci mengenai pihak-pihak yang terlibat, bagaimana struktur transaksi yang direncanakan, maupun porsi kepemilikan saham yang akan dibeli sebagaimana yang ramai dirumorkan.
BEI Perpanjang Suspensi Perdagangan Saham Wijaya Karya

Klarifikasi ini diperkuat oleh pernyataan dari Jenny yang dikutip melalui keterbukaan informasi pada hari Rabu (19/8/2026). Jenny menegaskan bahwa perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi saham perseroan sebagaimana dimaksud dalam informasi yang tengah beredar luas di kalangan pasar tersebut. Meski demikian, di sisi lain, pihak pemegang saham pengendali perseroan telah menyampaikan bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor, mereka tetap dapat mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang guna memaksimalkan investasi mereka di dalam perseroan.






