Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap dampak perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) bagi industri di dalam negeri. Langkah ini diambil untuk memetakan kondisi sektor industri nasional di tengah arus liberalisasi perdagangan global. Purbaya menyampaikan arahan tersebut saat menjadi pembicara kunci dalam acara bertajuk 'Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance' yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan pada Kamis (20/8).
Melalui evaluasi ini, pemerintah diharapkan dapat mengidentifikasi secara jelas industri mana saja yang masih memiliki potensi untuk diselamatkan dan dikembangkan lebih lanjut. Purbaya memaparkan tiga skenario atau opsi sikap yang bisa diambil pemerintah terhadap industri dalam negeri yang terdampak oleh perjanjian perdagangan bebas. Pilihan pertama adalah membiarkan industri tersebut berhenti beroperasi atau mati. Pilihan kedua adalah membiarkan industri bertahan secara perlahan tanpa adanya intervensi besar dari pemerintah. Sementara pilihan ketiga adalah memberikan perlindungan serta dukungan penuh agar industri tersebut mampu bersaing.
Menkop Ferry Juliantono Tegaskan Koperasi Tetap Relevan di Tengah Perubahan Ekonomi

Sebagai tindak lanjut dari rencana evaluasi tersebut, Kementerian Keuangan bersiap mengubah pendekatannya dalam menggali potensi ekonomi nasional mulai September mendatang. Perubahan strategi ini ditujukan untuk memacu kinerja perekonomian nasional agar dapat tumbuh lebih cepat. Pemerintah menargetkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka minimal 6 persen pada akhir tahun 2026. Purbaya optimistis langkah ini dapat berjalan baik mengingat Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi tantangan liberalisasi perdagangan pada masa-masing sebelumnya.
Di sisi lain, evaluasi ini juga bertujuan untuk menangkap berbagai peluang baru di pasar global, salah satunya adalah potensi kerja sama perdagangan dengan Eropa untuk produk-produk yang memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). Sektor tekstil dan alas kaki dinilai menjadi dua industri potensial yang dapat memanfaatkan peluang ekspor ke pasar Eropa tersebut jika didukung oleh sumber energi bersih. Selain itu, sektor pusat data atau data center juga diidentifikasi sebagai bidang yang memiliki prospek pertumbuhan sangat besar. Namun, Purbaya mengingatkan bahwa untuk menarik investasi di sektor pusat data ini, ketersediaan pasokan energi yang memadai menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono Hadiri Koperasi Awards 2026

Guna merealisasikan dukungan energi bersih bagi sektor industri tersebut, Kementerian Keuangan berencana mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Negara di bawah naungannya. Purbaya menyebutkan kemungkinan pemanfaatan PT Geo Dipa Energi untuk melakukan investasi lebih besar pada pengeboran panas bumi (geotermal). Pasokan energi bersih hasil pengeboran tersebut nantinya akan dialokasikan langsung untuk menyuplai kawasan-kawasan industri, termasuk pusat industri tekstil, demi meningkatkan daya saing produk dalam negeri di kancah perdagangan internasional.






