Realisasi kontribusi dari sektor pertambangan terhadap penerimaan negara selalu menjadi perhatian penting dalam pembangunan ekonomi nasional. PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai salah satu perusahaan tambang terkemuka di tanah air menunjukkan komitmennya melalui setoran yang signifikan kepada negara. Sepanjang tahun 2025, PT Freeport Indonesia berhasil mencatatkan kontribusi yang luar biasa dengan nilai mencapai Rp75 triliun untuk masuk ke kas negara. Kontribusi ini mencakup berbagai komponen penerimaan negara, baik untuk pemerintah pusat maupun alokasi bagi pemerintah di tingkat daerah.
Secara lebih rinci, kontribusi sebesar Rp75 triliun pada tahun 2025 tersebut tidak hanya dinikmati oleh pemerintah pusat. Sebagian dari dana tersebut, yakni sebesar Rp13 triliun, dialokasikan secara khusus untuk pemerintah daerah di wilayah Papua. Penerima alokasi ini meliputi Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta pemerintah kabupaten lainnya yang berada di wilayah Provinsi Papua Tengah. Informasi mengenai rincian kontribusi ini disampaikan secara langsung oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. Beliau menyampaikannya dalam pidato sambutan pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Tembagapura, Papua Tengah.
PT Freeport Indonesia Kembangkan Blok Tambang Kucing Liar Senilai Rp 72 Triliun di Papua Tengah

Memasuki tahun 2026, PT Freeport Indonesia menetapkan target kontribusi kepada negara yang disesuaikan dengan kondisi operasional saat ini. Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan kontribusi terhadap penerimaan negara sebesar Rp47 triliun. Target yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya ini disebabkan oleh adanya pembatasan pada kegiatan produksi perusahaan yang baru bisa mencapai 65 persen. Keterbatasan kapasitas produksi ini merupakan dampak langsung dari insiden longsoran yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC). Kendati demikian, untuk mengejar target kontribusi Rp47 triliun tersebut, PTFI mengandalkan rencana kerja produksi yang mencakup target 800 juta pound tembaga serta 700.000 ounces emas sepanjang tahun 2026.
Manajemen PT Freeport Indonesia juga telah menyusun proyeksi pemulihan operasional pasca-insiden di tambang bawah tanah tersebut. Perusahaan memproyeksikan bahwa tingkat produksi akan mulai merangkak naik dan ditargetkan mencapai 75 persen pada semester pertama tahun berikutnya (2027). Selanjutnya, kapasitas produksi diharapkan terus meningkat dan mendekati angka 100 persen pada akhir tahun tersebut. Secara keseluruhan, PTFI menargetkan pemulihan produksi hingga 100 persen secara penuh akan tercapai pada akhir tahun 2027 mendatang. Apabila kapasitas produksi telah kembali normal sepenuhnya ke tingkat 100 persen, kontribusi tahunan PTFI kepada negara diproyeksikan akan meningkat sangat signifikan, yakni melebihi Rp100 triliun dan bahkan berpotensi menyentuh angka Rp120 triliun per tahun.
Masyarakat Himpun Donasi Rp2,16 Miliar untuk Korban Bencana di NTT

Selain fokus pada pemulihan kapasitas produksi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, PT Freeport Indonesia juga terus mendorong proyek pengembangan masa depan untuk menjamin keberlanjutan operasionalnya. Salah satu langkah strategis yang sedang berjalan adalah pengembangan proyek tambang bawah tanah Kucing Liar. Proyek tambang bawah tanah Kucing Liar ini membutuhkan investasi yang sangat besar, dengan total nilai investasi mencapai Rp72 triliun. Sepanjang masa operasionalnya nanti, proyek tambang Kucing Liar ini diproyeksikan mampu menghasilkan komoditas tambang dalam jumlah yang sangat besar, yaitu lebih dari 7 miliar pound tembaga serta 6 juta ounces emas. Melalui investasi jangka panjang ini, PTFI diharapkan dapat terus memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi negara dan daerah sekitar.






