Aktivitas vulkanik di wilayah perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan. Gunung Anak Krakatau Erupsi 19 Kali pada 17 Agutus 2026. Rentetan letusan yang terjadi sepanjang hari Senin tersebut menandai fase aktif terbaru dari gunung api yang berada di kawasan selat tersebut.
Kronologi aktivitas ini dimulai sejak awal hari Senin, di mana sensor pemantau mendeteksi getaran dan letusan yang terjadi berulang kali. Berdasarkan data yang dihimpun, Gunung Anak Krakatau mengalami 19 kali letusan dalam kurun waktu satu hari penuh pada tanggal 17 Agustus 2026. Intensitas letusan ini bervariasi, yang dapat diukur dari parameter getaran tanah atau amplitudo serta durasi gempa yang terjadi selama proses letusan berlangsung.
Secara teknis, amplitudo letusan yang terekam pada hari Senin tersebut berada pada rentang angka 30 hingga 64 mm. Angka amplitudo ini mencerminkan besarnya energi getaran yang dihasilkan oleh setiap letusan yang terjadi. Selain kekuatan getaran, durasi gempa letusan juga memiliki variasi yang cukup lebar. Tercatat bahwa lama gempa yang menyertai rangkaian erupsi pada hari Senin tersebut berkisar antara 21 detik untuk durasi terpendek hingga mencapai 197 detik untuk durasi terpanjang.
Penanganan Darurat Gempa NTT, Kemensos Salurkan Bantuan Rp 14,65 Miliar

Tidak hanya terekam melalui instrumen seismik, aktivitas vulkanik ini juga teramati secara visual melalui kemunculan abu vulkanik. Selama rentetan letusan pada hari Senin, tinggi kolom abu vulkanik yang keluar dari kawah terpantau mencapai ketinggian maksimal hingga 400 meter di atas puncak Gunung Anak Krakatau. Keberadaan abu vulkanik ini menjadi indikasi adanya material vulkanik yang terdorong keluar ke permukaan akibat tekanan dari dalam gunung.
Setelah melewati hari Senin yang dipenuhi dengan belasan kali letusan, aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan masih terus berlanjut hingga hari berikutnya, yaitu pada Selasa, 18 Agustus 2026. Keberlanjutan aktivitas ini menunjukkan bahwa kondisi di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau masih mengalami pergerakan dan belum kembali ke kondisi tenang sepenuhnya.
Pada hari Selasa, pemantauan intensif terus dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas gunung pasca-erupsi beruntun. Dalam periode pengamatan yang dilakukan sejak pukul 00.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB pada hari Selasa tersebut, petugas pemantau mencatat adanya aktivitas kegempaan berupa gempa embusan. Meskipun tidak terekam adanya letusan besar seperti hari sebelumnya dalam rentang waktu enam jam pertama tersebut, terekam satu kali gempa embusan yang mengindikasikan masih adanya pelepasan gas atau tekanan dari kawah.
Anak 5 Tahun Korban Gempa NTT Dievakuasi Lewat Udara

Gempa embusan yang terdeteksi pada Selasa pagi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan gempa letusan pada hari Senin. Data instrumen menunjukkan bahwa gempa embusan pada hari Selasa memiliki kekuatan amplitudo sebesar 10 mm. Sementara itu, durasi atau lama gempa embusan tersebut tercatat berlangsung selama 38 detik. Data ini memberikan informasi penting mengenai penurunan intensitas tekanan sesaat pada selang waktu tersebut, meskipun pengawasan tetap harus berjalan secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, rangkaian data dari tanggal 17 Agustus hingga pagi hari tanggal 18 Agustus 2026 ini memperlihatkan bagaimana fluktuasi aktivitas Gunung Anak Krakatau terjadi dalam waktu singkat. Dari 19 kali letusan dengan amplitudo hingga 64 mm pada hari Senin, aktivitas kemudian bergeser menjadi gempa embusan dengan amplitudo yang lebih kecil pada Selasa pagi. Pengamatan yang konsisten terhadap parameter amplitudo, durasi gempa, dan tinggi kolom abu vulkanik ini menjadi dasar utama dalam memahami perilaku terkini dari gunung api yang terletak di Selat Sunda ini.






