Gempa bumi tektonik yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 memicu respons cepat dari pemerintah pusat dalam memulihkan kondisi masyarakat terdampak. Kementerian Sosial (Kemensos) bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan logistik dan santunan senilai total Rp 14.652.938.379. Langkah ini diambil guna mendukung percepatan penanganan darurat di wilayah-wilayah terdampak bencana yang tersebar di beberapa daerah.
Dampak gempa bumi ini dilaporkan meluas hingga mencakup tiga provinsi, sembilan kabupaten, dan satu kota. Di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), kerusakan terparah dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende. Skala kerusakan yang masif ini memerlukan koordinasi intensif antara pemerintah daerah dan pusat agar penyaluran bantuan tepat sasaran.
Berdasarkan data terkini per 18 Agustus 2026, bencana alam ini telah merenggut 70 korban jiwa, menyebabkan 665 orang mengalami luka-luka, serta memaksa 31.220 warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Tercatat ada 16.411 keluarga yang terdampak langsung oleh guncangan gempa tersebut. Selain korban jiwa dan luka, kerusakan infrastruktur juga sangat memprihatinkan. Tercatat sebanyak 12.153 unit rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 6.578 unit rusak berat, 1.660 unit rusak sedang, dan 3.915 unit rusak ringan. Fasilitas publik pun tidak luput dari kerusakan, dengan rincian 264 fasilitas pendidikan serta 83 fasilitas kesehatan yang mencakup sembilan rumah sakit dan 74 Puskesmas mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Gunung Anak Krakatau Erupsi 19 Kali pada 17 Agustus 2026

Untuk menopang kebutuhan logistik para pengungsi, Kemensos merinci alokasi bantuan yang disalurkan. Pemerintah mengirimkan 48 ton beras reguler dengan nilai Rp 672 juta serta 7.500 paket sembako senilai Rp 2,25 miliar. Guna memastikan pasokan makanan dan tempat berteduh sementara bagi warga, anggaran sebesar Rp 5,167 miliar dialokasikan untuk perlengkapan pengungsian dan operasional dapur umum yang tersebar di tujuh titik pengungsian. Selain itu, pasokan logistik cadangan atau buffer stock juga disiapkan dengan nilai anggaran mencapai Rp 4,518 miliar.
Kemensos juga menyiapkan santunan tunai bagi para korban sebagai bentuk kepedulian negara. Ahli waris dari 70 korban meninggal dunia akan menerima santunan masing-masing sebesar Rp 15 juta, dengan total anggaran Rp 1,05 miliar. Sementara itu, untuk 199 korban yang mengalami luka berat, pemerintah mengalokasikan santunan masing-masing sebesar Rp 5 juta dengan total mencapai Rp 995 juta.
Masyarakat Himpun Donasi Rp2,16 Miliar untuk Korban Bencana di NTT

Dalam perkembangannya di lapangan, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono langsung turun memantau kondisi di Kabupaten Manggarai. Beliau mengunjungi Ruteng serta memantau kondisi di Kecamatan Reok yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Berdasarkan pemetaan di lapangan, para pengungsi saat ini terbagi ke dalam tiga kelompok kondisi: warga yang berada di shelter terpusat, pengungsi mandiri yang mendirikan tenda di sekitar kediaman mereka, serta korban di daerah-daerah terisolir yang aksesnya masih terus diidentifikasi oleh petugas penyelamat.
Terkait dengan keberlangsungan program pendidikan non-formal, Gus Ipul memastikan bahwa program Sekolah Rakyat di NTT tidak terdampak oleh bencana gempa ini. Hal tersebut dikarenakan program Sekolah Rakyat yang saat ini telah berjalan baru berlokasi di Kota Kupang. Sementara itu, untuk wilayah kabupaten lainnya, penyelenggaraan program pendidikan tersebut masih berada dalam tahap persiapan administrasi dan teknis.






