Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di Istana, Jakarta, untuk membahas kelanjutan proyek infrastruktur pesisir nasional. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, serta Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa. Rapat ini secara khusus mengevaluasi progres pembangunan Giant Sea Wall Jakarta proyek tanggul laut yang dirancang untuk mengatasi ancaman banjir rob dan penurunan permukaan tanah.
Urgensi dari proyek tanggul laut ini sangat tinggi mengingat kondisi geografis kawasan pesisir utara Jawa (Pantura) yang kian rentan. Berdasarkan data yang dibahas, penurunan permukaan tanah di beberapa wilayah Pantura saat ini telah mencapai kisaran 5 hingga 15 sentimeter, bahkan ada yang menyentuh 15 hingga 20 sentimeter per tahun. Padahal, kawasan Pantura dihuni oleh sekitar 50 juta penduduk. Menteri Brian Yuliarto menyatakan bahwa proyek strategis Giant Sea Wall ini memiliki potensi besar untuk menyelamatkan sekitar 60 persen kawasan industri di utara Jawa serta melindungi lebih dari 30 juta warga yang tinggal di wilayah terdampak.
Massa Demo di OT Building Jakbar Bubar, Lalin Lancar

Terkait dengan perencanaan ke depan, AHY berharap konsep proyek tanggul laut di sepanjang Pantura ini dapat dimatangkan secara lebih komprehensif pada tahun depan. Skala proyek ini sangat masif karena melibatkan koordinasi lintas wilayah yang mencakup lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota di Indonesia. Pembangunan ini tidak hanya berfokus pada struktur fisik beton semata, melainkan juga mengintegrasikan konstruksi tanggul dengan solusi berbasis alam (nature-based solutions), seperti penanaman hutan mangrove di area pesisir yang mengalami kerusakan parah.
Di sisi lain, perkembangan fisik di lapangan terus berjalan melalui integrasi proyek jalan tol. Salah satunya adalah proyek Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1B yang terintegrasi langsung dengan tanggul laut dan nantinya akan menjadi bagian dari jaringan Giant Sea Wall. Di tengah berjalannya proyek ini, PT PP (Persero) Tbk selaku salah satu pemegang saham utama berencana melakukan langkah strategis korporasi. Badan usaha milik negara ini berniat melepas atau mendivestasikan sekitar 40 persen kepemilikan sahamnya di PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak (PPSD). Saat ini, PTPP memegang 75 persen saham di PPSD dan berencana menyisakan sekitar 30 persen kepemilikan setelah proses divestasi selesai.
Melihat Arah Baru Restrukturisasi PT Waskita Karya dan Rencana Transformasi Bisnis

Hingga saat ini, kemajuan konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak menunjukkan perkembangan yang bervariasi di setiap seksinya. Seksi 1 yang membentang sepanjang 10,64 kilometer di atas laut terbagi menjadi beberapa bagian pengerjaan. Progres konstruksi untuk Seksi 1A tercatat telah mencapai 47,81 persen, disusul Seksi 1B yang terintegrasi dengan tanggul laut sebesar 29,78 persen, dan Seksi 1C yang dilengkapi dengan kolam retensi mencapai 20,92 persen. Sementara itu, Seksi 2 ruas Sayung-Demak sepanjang 16,31 kilometer yang berada di daratan telah beroperasi penuh sejak 25 Februari 2023. Secara keseluruhan, seluruh ruas jalan tol ini ditargetkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2027.






