Krisis perbatasan di wilayah Afrika Utara kembali memicu sorotan tajam setelah sekitar 72.000 orang dilaporkan berusaha menyeberang dari Fnideq menuju Ceuta, wilayah otonom Spanyol, pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Skala pergerakan massa yang luar biasa ini melahirkan berbagai spekulasi mengenai aktor di balik layar. Dalam sebuah analisis yang diterbitkan di Modern Diplomacy pada 2 Agustus 2026, pengamat politik Nadia Helmy mengkaji potensi keterlibatan badan intelijen asing, termasuk CIA dan dinas intelijen Israel, Mossad. Spekulasi ini membuka kembali lembaran sejarah panjang hubungan rahasia antara Maroko dan Israel yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Hubungan informal antara Rabat dan Tel Aviv sebenarnya bukan hal baru, melainkan memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa awal kemerdekaan Maroko dari Prancis pada tahun 1956. Ketika Raja Muhammad V melarang warga Yahudi beremigrasi ke Israel, Mossad secara rahasia membangun jaringan bawah tanah untuk menyelundupkan mereka. Rute penyelundupan ini sering kali melewati Tangier atau Tetuan menuju Ceuta. Salah satu insiden tragis dalam operasi senyap ini terjadi pada 10 Januari 1961, ketika kapal Egoz yang membawa 44 emigran Yahudi tenggelam di perairan utara Maroko.
Setelah transisi kekuasaan kepada Raja Hassan II, pendekatan Maroko mulai bergeser. Melalui Operasi Yachin yang berlangsung dari tahun 1961 hingga 1964, Raja Hassan II secara resmi mengizinkan sekitar 90.000 hingga 100.000 warga Yahudi untuk meninggalkan Maroko menuju Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Sebagai imbalannya, pemerintah Maroko menerima pembayaran berdasarkan jumlah warga yang diizinkan pergi. Kerja sama ini menjadi fondasi bagi hubungan timbal balik yang lebih erat di bidang keamanan dan intelijen.
Pidato Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR 2026 Paparkan Capaian Kinerja Pemerintah

Puncak dari kolaborasi intelijen kedua negara terjadi pada pertengahan dekade 1960-an. Ketika para pemimpin Arab berkumpul di Hotel Mansour, Casablanca, pada September 1965 untuk membahas kesiapan militer melawan Israel, intelijen Maroko merekam seluruh jalannya pertemuan tersebut. Rekaman dan dokumen penting itu kemudian diserahkan kepada Israel. Mantan perwira intelijen Israel, Rafi Eitan, mengungkapkan bahwa tim gabungan Mossad dan Shin Bet awalnya diberikan akses langsung untuk menyadap konferensi tersebut. Data intelijen inilah yang nantinya dipelajari militer Israel sebagai persiapan menghadapi Perang Enam Hari pada tahun 1967.
Sebagai timbal balik atas bantuan intelijen tersebut, Mossad juga membantu kepentingan domestik dinas keamanan Maroko. Pada tahun 1965, Menteri Dalam Negeri Maroko Mohammed Oufkir dan Letnan Kolonel Ahmed Dlimi meminta bantuan Mossad untuk melacak tokoh oposisi Mehdi Ben Barka yang sebelumnya sempat mencari dukungan Israel untuk melawan Raja Hassan II. Ben Barka akhirnya diculik di Paris pada 29 Oktober 1965 dan diyakini telah tewas dibunuh.
Menjaga Optimisme di Tengah Risiko Geopolitik dan Geoekonomi

Meskipun hubungan diplomatik sempat mengalami pasang surut鈥攕eperti aksi protes dan perusakan Kedutaan Maroko di Beirut setelah pertemuan Raja Hassan II dengan Perdana Menteri Israel Shimon Peres di Ifrane pada 1986, serta penutupan kantor penghubung akibat Intifada Kedua pada tahun 2000鈥攌emitraan kedua negara kembali menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pada November 2021, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz dan Menteri Delegasi Pertahanan Nasional Maroko Abdellatif Loudiyi menandatangani nota kesepahaman pertahanan di Rabat. Selain itu, kerja sama siber juga mengemuka seiring dengan laporan peretasan ponsel jurnalis dan aktivis HAM Maroko, seperti Fouad Abdelmoumni, menggunakan perangkat pengintai Pegasus buatan Israel.
Di tengah latar belakang sejarah kolaborasi intelijen yang berlapis dan kompleks inilah spekulasi mengenai keterlibatan pihak asing dalam krisis migran di Ceuta pada pertengahan 2026 bergulir. Kendati analisis tersebut masih bersifat hipotesis dan memerlukan pembuktian lebih lanjut, jejak panjang relasi keamanan antara Maroko dan Mossad tetap menjadi variabel yang tidak dapat diabaikan oleh para pengamat geopolitik kawasan tersebut.






