Jaksa penuntut dalam kasus uang penutup mulut yang menjerat Donald Trump secara resmi telah menyelesaikan penyajian kasus mereka pada hari Senin, 20 Mei 2024. Dengan selesainya pemaparan dari pihak jaksa, penanganan perkara kini beralih ke tangan tim pengacara mantan presiden tersebut untuk memaparkan pembelaan mereka. Persidangan pidana ini sendiri awalnya dijadwalkan untuk dimulai pada tanggal 15 April. Sebelum persidangan pidana ini berjalan, Trump juga sempat mendapatkan kelonggaran di mana nilai jaminan dalam kasus perdata terpisah yang dihadapinya dikurangi secara substansial.
Keputusan jaksa untuk menyelesaikan argumen mereka diambil setelah saksi kunci, Michael Cohen, menyelesaikan kesaksiannya. Cohen turun dari stan saksi setelah memberikan kesaksian selama hampir empat hari penuh. Dalam pernyataannya di persidangan, Cohen memberikan kesaksian bahwa dirinya telah berbicara dengan Donald Trump lebih dari 20 kali mengenai pembayaran uang penutup mulut kepada Daniels pada bulan Oktober 2016. Namun, pengacara utama Trump, Todd Blanche, membantah keras tuduhan tersebut. Blanche berargumen di persidangan bahwa jaksa penuntut tidak memiliki bukti yang kuat mengenai adanya pemalsuan catatan bisnis ataupun niat untuk melakukan penipuan.
Dinamika Jajak Pendapat Pemilu AS, Persaingan Harris dan Trump serta Tata Cara Pemilihan Anggota Militer

Untuk menyangkal kesaksian Cohen, tim hukum Trump menghadirkan saksi-saksi lain. Robert Costello memberikan kesaksian bahwa Cohen pernah memberi tahu dirinya bahwa Trump sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai pembayaran uang penutup mulut tersebut. Costello juga bersaksi bahwa Cohen menyatakan dirinya tidak memiliki informasi apa pun mengenai Donald Trump. Selain Costello, tim hukum juga melibatkan Daniel Sitko, seorang paralegal yang bekerja di kantor hukum pengacara Trump, Todd Blanche. Hakim persidangan juga mengizinkan tim hukum Trump untuk memanggil Bradley A. Smith, seorang pakar keuangan kampanye, meskipun kesaksiannya dibatasi oleh hakim.
Di luar jalannya persidangan di ruang sidang, tensi politik dan hukum tetap tinggi. Setelah meninggalkan ruang sidang pada hari Senin tersebut, Donald Trump berbicara kepada wartawan selama sekitar 15 menit dan menyebut hakim yang memimpin sidang sebagai seorang tirani. Kasus ini sendiri diadili di Manhattan, sebuah wilayah di mana Trump hanya memperoleh 12 persen suara dalam pemilihan presiden tahun 2020. Sebagai perbandingan, Trump hanya mendapatkan 5 persen suara dalam pemilihan presiden tahun 2020 di Washington, D.C. Selama proses persidangan berlangsung, dua juri yang sebelumnya telah ditetapkan untuk duduk di panel juri akhirnya dicopot.
Megawati Soekarnoputri Hadiri Peluncuran Buku Autobiografi Erros Djarot di Gedung Kesenian Jakarta

Isu mengenai sistem juri dan keadilan persidangan sering kali menjadi sorotan sejarah hukum di Amerika Serikat. Sebagai contoh, undang-undang di Louisiana pada tahun 1898 pernah mengizinkan sembilan juri berkulit putih untuk menyatakan bersalah seorang terdakwa, meskipun tiga juri berkulit hitam memilih untuk membebaskannya. Di sisi lain, perkembangan hukum mengenai keabsahan putusan juri terus berjalan, seperti ketika Mahkamah Agung Oregon memutuskan pada tahun 2022 bahwa vonis yang tidak bulat menghasilkan keputusan hukum yang tidak sah. Untuk kasus Trump, setelah tim pembela menyelesaikan penyajian kasus mereka, Hakim Merchan berencana untuk memulangkan para juri hingga hari setelah Memorial Day, di mana setelah itu persidangan akan dilanjutkan dengan argumen penutup.






