Pasar tenaga kerja di Indonesia tengah menghadapi situasi yang cukup menantang. Banyak pelaku usaha memilih untuk bersikap hati-hati dan menahan diri dalam menambah pekerja baru, terutama untuk posisi pegawai tetap. Langkah ini diambil di tengah situasi ekonomi global dan domestik yang masih dipenuhi ketidakpastian, membuat perusahaan harus berhitung dengan sangat cermat sebelum mengambil keputusan ekspansi sumber daya manusia.
Menurut penjelasan Erwin Aksa, kehati-hatian dunia usaha dipicu oleh sejumlah faktor utama. Permintaan pasar yang belum cukup kuat menjadi salah satu kendala terbesar. Ketika konsumsi masyarakat masih tertahan dan kondisi pasar ekspor belum menunjukkan kepastian, perusahaan cenderung menunda perekrutan karyawan baru. Selain itu, ketidakpastian biaya operasional serta arah kebijakan pemerintah turut membayangi langkah para pengusaha. Sebelum menambah tenaga kerja, manajemen perusahaan harus mempertimbangkan berbagai variabel biaya, mulai dari biaya energi dan logistik, biaya pembiayaan, produktivitas pekerja, kepastian regulasi, hingga biaya kepatuhan hukum yang harus dipenuhi.
Meskipun ada kecenderungan menahan rekrutmen, peluang penyerapan tenaga kerja diproyeksikan tetap terbuka pada tahun 2027. Sektor manufaktur padat karya diperkirakan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Erwin Aksa memaparkan bahwa industri pengolahan seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, serta furnitur merupakan sektor-sektor utama yang memiliki potensi penyerapan tenaga kerja paling banyak di masa mendatang. Potensi besar ini diharapkan mampu menopang target penurunan tingkat pengangguran terbuka nasional.
Persaingan Bisnis Logistik E-Commerce Indonesia Makin Ketat

Terkait target ketenagakerjaan, Anggawira menilai target tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,30%-4,87% pada tahun 2027 sebagai sasaran yang menantang namun tetap realistis untuk dicapai. Syarat utamanya adalah pertumbuhan ekonomi nasional harus benar-benar bersifat padat karya yang mampu menyerap banyak pekerja. Tantangan besar lainnya yang dihadapi saat ini bukan sekadar menciptakan lapangan kerja baru, melainkan bagaimana menarik lebih banyak pekerja dari sektor informal agar dapat masuk ke dalam sektor formal yang lebih terjamin.
Untuk mengatasi hambatan rekrutmen ini, pemerintah perlu mengambil langkah nyata guna membangun kepercayaan dunia usaha. Pemerintah diharapkan tidak hanya berfokus pada pencapaian angka pertumbuhan ekonomi makro, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas dan menghasilkan lapangan kerja. Erwin Aksa menyarankan agar keberhasilan investasi tidak lagi diukur semata-mata dari besarnya nilai nominal modal yang masuk, tetapi juga dari jumlah pekerjaan baru yang berhasil diciptakan.
Update Gempa Flores, 71 Korban Meninggal, 59.647 Orang Pengungsi

Senada dengan itu, Anggawira menambahkan bahwa indikator keberhasilan pembangunan ekonomi perlu diperluas. Metrik kesuksesan harus mencakup jumlah pekerjaan formal yang tercipta, tingkat upah riil, produktivitas, perlindungan bagi pekerja, serta keselarasan antara sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, program hilirisasi industri perlu diperluas jangkauannya ke sektor-sektor yang memiliki basis tenaga kerja sangat luas di masyarakat, seperti sektor pertanian, perkebunan, perikanan, serta penguatan ekonomi di tingkat pedesaan.






