Penyelamatan kegiatan ekonomi PT Sri Rejeki Isman (Sritex) kini menjadi fokus perhatian serius dari pemerintah setelah perusahaan tekstil raksasa tersebut dinyatakan pailit. Sritex resmi diputus pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang pada Oktober 2024 yang lalu akibat mengalami gagal bayar utang. Mengingat peran pentingnya dalam industri, pemerintah berupaya mencari jalan keluar terbaik demi melindungi kelangsungan industri tekstil nasional serta nasib para pekerja yang menggantungkan hidupnya di sana. Sritex sendiri tercatat mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan, sebuah jumlah yang sangat besar bagi penyerapan tenaga kerja lokal.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyayangkan jika PT Sri Rejeki Isman pada akhirnya harus dilikuidasi akibat permasalahan hukum dan finansial yang menjeratnya. Dalam pandangan Agus, langkah penyelamatan masih sangat dimungkinkan, namun memerlukan adanya konsep baru dalam pengelolaan manajemen Sritex. Ia menyatakan bahwa menyelamatkan perusahaan legendaris ini akan jauh lebih bagus dan efektif jika dilakukan dengan menerapkan konsep kepemilikan (ownership) yang berbeda dari sebelumnya. Konsep kepemilikan baru tersebut diharapkan mampu membawa perubahan positif dan memulihkan kondisi operasional perusahaan.
Prabowo Beberkan Penghematan Biaya Overhead BUMN Tembus Rp50 Triliun

Sebagai bentuk antisipasi apabila upaya penyelamatan perusahaan tidak membuahkan hasil, pemerintah telah menyiapkan rencana cadangan. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah berencana untuk membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang secara khusus menggarap sektor industri tekstil. Menurut Prasetyo Hadi, pembentukan BUMN tekstil ini ditujukan untuk menggantikan seluruh kegiatan ekonomi yang selama ini dijalankan oleh PT Sritex, bahkan jika perusahaan tersebut pada akhirnya tidak dapat diselamatkan sama sekali. Langkah ini dinilai krusial karena pemerintah wajib menyelamatkan kegiatan ekonomi yang dihasilkan oleh Sritex, yang selama ini menopang mata pencaharian kurang lebih 10.000 karyawan serta menghasilkan aktivitas ekonomi yang sangat besar bagi wilayah sekitarnya.
Rencana pembentukan BUMN khusus tekstil ini tidak main-main dan akan didukung oleh kekuatan finansial yang kokoh. BUMN tekstil tersebut direncanakan akan menerima suntikan modal awal yang fantastis, yaitu sebesar US$ 6 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp 101,17 triliun dengan asumsi nilai tukar atau kurs Rp 16.863 per dolar AS. Seluruh dana modal awal ini nantinya akan disalurkan secara langsung oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau yang dikenal sebagai BPI Danantara. Dengan dukungan dana yang sangat besar ini, BUMN baru tersebut diharapkan memiliki fondasi yang kuat untuk beroperasi secara mandiri dan kompetitif di pasar.
Menjaga Optimisme di Tengah Risiko Geopolitik dan Geoekonomi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menambahkan bahwa rencana pembentukan BUMN tekstil ini bukan sekadar langkah darurat demi mengatasi krisis Sritex. Lebih dari itu, rencana tersebut merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah untuk mengembangkan industri tekstil nasional secara menyeluruh dan terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Kehadiran BUMN ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok tekstil dalam negeri, mulai dari sektor hulu, sektor antara (intermediate), hingga sektor hilir. Pemerintah berharap langkah komprehensif ini dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri tekstil Indonesia di kancah global.






