Kondisi cuaca ekstrem akibat fenomena El-Nino Kuat yang terpantau berlangsung sejak Juli 2026 memicu peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan. Hingga saat ini, karhutla dilaporkan telah menghanguskan sedikitnya 3.387 hektare hutan dan lahan yang tersebar di 13 kabupaten/kota di wilayah tersebut. Dampak dari kebakaran ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti kawasan pemukiman.
Seiring dengan berlangsungnya musim kemarau, Dinas Kesehatan Kalsel mencatat lonjakan tajam pada jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan pneumonia yang kini telah menembus lebih dari 7.000 kasus. Wilayah dengan konsentrasi kasus terbanyak dilaporkan berada di Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, Diauddin, pada Jumat (14/8) menyampaikan bahwa langkah pencegahan terus berjalan melalui pembagian masker kepada masyarakat umum serta ke sekolah-sekolah. Diauddin juga memastikan bahwa persediaan obat-obatan yang dimiliki saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan penanganan.
Pemerintah Matangkan Dokumen Second NDC dan Aturan Baru Perdagangan Karbon

Di tengah kepungan kabut asap, aktivitas pendidikan di beberapa sekolah dilaporkan masih berjalan dengan kondusif. Kepala SDN 1 Landasan Ulin Selatan di Banjarbaru, Suadmaji, mengonfirmasi bahwa proses pembelajaran bagi 286 siswanya sejauh ini tetap berlangsung normal. Sementara itu, upaya penanggulangan dari sisi regulasi terus diperketat. Gubernur Kalsel, Muhidin, menyampaikan imbauan tegas terkait larangan membakar lahan di sela-sela puncak peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan. Langkah antisipasi ini sejalan dengan kebijakan KLH/BPLH yang telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 16 Tahun 2026 tentang Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar.
Selain fokus pada penanganan dampak kemarau dan karhutla, Kalimantan Selatan juga terus mendorong agenda pembangunan daerah dan pengelolaan lingkungan. Menteri Agama KH Nasaruddin Umar turut menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan di Kalsel. Di sisi lain, Pemprov Kalsel tengah mengusulkan agar komoditas ikan lokal seperti patin dan haruan dimasukkan ke dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menekan angka stunting di provinsi tersebut yang saat ini mencapai 22,9 persen. Dari sisi perekonomian, minat investasi di Kalsel juga menunjukkan angka positif, di mana perhelatan Investment Forum Pamor Borneo 2026 yang digelar Pemprov bersama Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada 7–9 Agustus 2026 berhasil menarik minat investasi hingga Rp64 triliun dari total 15 proyek senilai Rp73 triliun yang ditawarkan.
3 Pesantren Ternama di Jawa Tengah Buka Pendaftaran, Simak Syarat dan Biayanya

Fenomena karhutla akibat cuaca ekstrem ini tidak hanya melanda wilayah Kalimantan Selatan. Di Provinsi Riau, terpantau ada total 158 titik panas yang tersebar di 11 kabupaten dan kota, dengan jumlah titik panas terbanyak berada di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) yaitu sebanyak 36 titik. Kebakaran lahan juga menghanguskan sekitar 50 hektare lahan gambut di wilayah Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, yang hingga kini masih dalam penanganan pemadaman oleh tim gabungan Manggala Agni. Sementara itu, di wilayah Jawa Barat, PBD Majalengka mencatat telah terjadi 6 kejadian bencana sepanjang Juni 2026, yang terdiri dari satu kejadian cuaca ekstrem dan satu kejadian karhutla.






