Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mematangkan kesiapan infrastruktur transportasi publik menjelang peresmian dan pengoperasian awal Lintas Rel Terpadu (LRT) Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai yang ditargetkan pada 26 Agustus 2026. Jalur sepanjang 12,2 kilometer ini akan menghubungkan 11 stasiun dengan target waktu tempuh sekitar 28 menit. Hingga minggu keempat Juli 2026, progres pembangunan koridor Velodrome-Manggarai secara keseluruhan telah mencapai 97,99 persen.
Untuk memastikan kelancaran operasional, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memperkuat koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Menurut Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono serta Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro Robert Sarjaka, koordinasi ini mencakup pengujian prasarana, sarana, sistem persinyalan, telekomunikasi, kelistrikan, hingga integrasi sistem secara menyeluruh. Pengembangan LRT Jakarta ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem transportasi publik sebagai salah satu fondasi Jakarta menuju kota global, sejalan dengan arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Setelah beroperasi penuh, jaringan baru ini diproyeksikan dapat meningkatkan jumlah pengguna secara bertahap hingga mencapai 60.000 sampai 80.000 penumpang per hari.
Sebelas stasiun yang akan beroperasi pada rute ini meliputi Stasiun Kelapa Gading, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, dan Manggarai. Aspek konektivitas antarmoda menjadi fokus utama, di mana Stasiun Manggarai akan berfungsi sebagai simpul integrasi utama yang menghubungkan LRT Jakarta dengan KRL Commuter Line, KA Bandara, dan Transjakarta. Sementara itu, Stasiun Rawamangun, Pramuka, dan Proklamasi juga terintegrasi langsung dengan layanan Transjakarta.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Ditargetkan Beroperasi Mulai 26 Agustus 2026

Selain LRT, penyesuaian layanan transportasi juga dilakukan pada moda kereta komuter. KAI Commuter Line mengumumkan perubahan jadwal perjalanan KRL untuk rute Jakarta Kota-Bogor, Bogor-Jakarta Kota, Nambo-Jakarta Kota, dan Bogor-Depok mulai April 2026. Penyesuaian ini dilakukan dalam rangka pengembangan Stasiun Bogor serta upaya peningkatan kapasitas dan layanan Commuter Line Bogor-Jakarta. Pengguna jasa dapat memantau perubahan jadwal tersebut melalui aplikasi resmi C-Access, Access by KAI, atau akun media sosial X @CommuterLine.
Penyediaan infrastruktur transportasi terintegrasi ini merupakan bagian dari visi besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membawa kota ini masuk dalam jajaran 50 besar kota global pada 2030 dan 20 besar pada 2045. Untuk merealisasikan target tersebut dalam lima tahun ke depan, Pemprov DKI Jakarta membutuhkan dana pembangunan sekitar Rp1.064 triliun. Mengingat besarnya kebutuhan anggaran, pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan menyiapkan skema pembiayaan kreatif (creative financing) dengan melibatkan badan usaha, investor, dan lembaga keuangan. Proyek yang direncanakan meliputi pengembangan jaringan MRT sepanjang 62,1 kilometer, jaringan LRT sepanjang 57,8 kilometer, serta lebih dari 100 program pendukung lainnya.
LRT Jakarta Rute Velodrome-Manggarai Ditargetkan Beroperasi Mulai 26 Agustus 2026

Sebagai bagian dari strategi pembiayaan tersebut, Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan Jakarta Collaboration Fund (JCF) sebagai hub finansial daerah untuk menghimpun berbagai instrumen pembiayaan. Skema kreatif seperti hak penamaan (naming rights) juga telah diterapkan, antara lain di Halte Swadarma ParagonCorp dan Stasiun LRT Jakarta Boulevard Utara-Summarecon Mall Kelapa Gading. Selain itu, terdapat kolaborasi non-komersial seperti perubahan nama Halte Transjakarta Setiabudi menjadi Halte Setiabudi Integritas yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pemerintah daerah juga mengoptimalkan aset dan kewajiban pengembang untuk membangun ruang publik. Salah satunya adalah pembangunan Taman Bendera Pusaka seluas sekitar 5,5 hektare di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang menghubungkan Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser tanpa menggunakan dana APBD melalui mekanisme pelampauan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Surat Persetujuan Prinsip Pembebasan Lokasi (SP3L). Proyek infrastruktur lain yang ditawarkan kepada mitra investasi meliputi Pedestrian Deck Dukuh Atas untuk mempermudah perpindahan penumpang antarmoda, serta proyek Bundaran HI Extended Concourse untuk memperluas area Stasiun MRT Bundaran HI.






