PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada tahun 2026. Pencapaian ini diraih di tengah tantangan baru terkait regulasi komisi ojek online (ojol) serta rencana perubahan ketentuan harga saham di bursa.
Pada periode Januari hingga Juni 2026, GoTo mencatatkan laba bersih sebesar Rp608 miliar. Realisasi tersebut membalikkan posisi keuangan perusahaan yang mencatat rugi bersih sebesar Rp580 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Regulasi Komisi Ojol Menjadi 8 Persen
Kinerja positif ini bertepatan dengan adanya regulasi baru yang memangkas batas potongan komisi aplikasi menjadi 8% dari sebelumnya mencapai 20%. Aturan baru ini telah berlaku untuk layanan transportasi roda dua sejak 1 Juli 2026, sedangkan aturan untuk layanan pengantaran barang dan makanan masih dalam tahap penyusunan oleh pemerintah.
Kemendag Naikkan Harga Patokan Ekspor dan Referensi Emas Periode 1–14 September 2026

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan sedang merumuskan aturan agar tercapai keseimbangan yang adil bagi mitra pengemudi maupun perusahaan aplikator agar ekosistem bisnis tetap berkelanjutan.
Rencana Penghapusan Batas Bawah Harga Saham
Selain regulasi operasional, GoTo juga menghadapi rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menghapus batas bawah harga saham Rp50 di seluruh papan pencatatan. Kebijakan ini berpotensi membuat harga saham terendah turun hingga level Rp1.
Kalangan analis menilai rencana ini dapat memberikan dampak positif bagi likuiditas perdagangan saham GOTO karena mempermudah pertemuan antara penjual dan pembeli di pasar. Sebelumnya, saham GOTO sempat tertahan di level Rp50 selama lebih dari tiga bulan hingga didepak dari indeks global FTSE dan MSCI.
Pemerintah Usulkan Kuota Solar Subsidi 19 Juta Kiloliter dan LPG 3 Kg 8 Juta Metrik Ton untuk 2027

Di tengah dinamika regulasi tersebut, Morgan Stanley dilaporkan membeli saham GOTO di harga Rp23 per saham berdasarkan Keterbukaan Informasi per 26 Agustus 2026. Pembelian ini menempatkan Morgan Stanley sebagai salah satu pemegang saham dengan kepemilikan hampir 59,4 miliar lembar saham atau setara dengan kisaran 5,2% dari total saham beredar.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menjelaskan bahwa bisnis fintech perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan melampaui profitabilitas bisnis layanan on-demand untuk pertama kalinya. GoTo tetap mempertahankan target EBITDA grup yang disesuaikan untuk setahun penuh 2026 pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.






