Pertemuan dengan guru kelas atau menerima laporan perkembangan dari sekolah sering kali menjadi momen yang mendebarkan bagi sebagian orang tua. Ketika guru memberikan catatan mengenai sikap anak di kelas, respons emosional yang muncul bisa sangat beragam. Bagi sebagian orang tua, mendengar anaknya disebut nakal, usil, atau iseng dalam laporan guru bisa memunculkan perasaan gelisah, tidak nyaman, hingga malu. Perasaan ini merupakan hal yang manusiawi, terutama karena sekolah kerap dipandang sebagai cerminan dari pola asuh di rumah. Keadaan ini membuat momen penerimaan rapor atau laporan berkala menjadi hal yang cukup menegangkan bagi keluarga.
Rasa gelisah dan tidak nyaman yang muncul saat anak dilabeli dengan kata-kata seperti nakal atau usil sering kali bersumber dari kekhawatiran akan masa depan anak. Orang tua mungkin merasa cemas apakah perilaku tersebut akan memengaruhi proses belajar anak di sekolah atau bagaimana anak bersosialisasi dengan teman-temannya. Selain itu, adanya perasaan malu juga dapat muncul karena adanya anggapan sosial bahwa perilaku anak mencerminkan kegagalan orang tua dalam mendidik di rumah. Perasaan-perasaan negatif ini, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memengaruhi cara orang tua berinteraksi dengan anak maupun dengan pihak sekolah setelah menerima laporan tersebut.
Jadwal Vietnam vs Malaysia Leg 2 AFF 2026 & Syarat Lolos Final

Dalam menghadapi situasi tersebut, tidak jarang muncul kecenderungan untuk bersikap defensif. Rasa cemas, tidak nyaman, atau malu terkadang membuat orang tua merasa sulit menerima masukan dari sekolah secara terbuka. Sebagian orang tua mungkin merasa bahwa penilaian guru kurang tepat atau tidak memahami karakter unik anak mereka, terutama jika perilaku yang dilaporkan sangat berbeda dengan kebiasaan anak saat berada di rumah. Perbedaan persepsi antara apa yang dilihat guru di sekolah dan apa yang dilihat orang tua di rumah ini sering kali memperlebar jarak komunikasi, yang pada akhirnya dapat menghambat pencarian solusi terbaik bagi anak.
Menyikapi perbedaan sudut pandang ini, langkah awal yang penting dilakukan orang tua adalah mengelola emosi terlebih dahulu. Mengakui adanya rasa gelisah, tidak nyaman, atau malu dapat membantu orang tua agar tidak terburu-buru meluapkan kekesalan kepada anak atau menyalahkan pihak sekolah. Setelah emosi mereda dan pikiran menjadi lebih tenang, orang tua dapat menjadwalkan waktu untuk berdiskusi secara langsung dengan guru guna mendapatkan penjelasan yang lebih rinci mengenai konteks perilaku anak yang dianggap nakal, usil, atau iseng tersebut. Diskusi ini penting untuk menyamakan persepsi dan mencari tahu penyebab di balik perilaku tersebut.
Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini 18 Agustus 2026 Mengalami Kenaikan

Pada akhirnya, keterbukaan dan komunikasi dua arah antara orang tua dan guru menjadi kunci utama dalam menyelesaikan masalah ini. Dengan menghadapi laporan sekolah secara tenang, perasaan tidak nyaman, gelisah, atau malu yang awalnya muncul dapat diubah menjadi langkah kolaboratif yang positif. Kerja sama yang baik antara pihak rumah dan sekolah sangat penting untuk membantu anak memperbaiki perilakunya dan beradaptasi dengan lebih baik di lingkungan sekolah. Melalui komunikasi yang sehat, laporan mengenai anak yang nakal, usil, atau iseng tidak lagi dipandang sebagai sebuah hukuman, melainkan sebagai kesempatan untuk membimbing anak bersama-sama.






