Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya memicu kabut asap pekat, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem dalam jangka panjang. Siklus tahunan ini terus berulang dan menyisakan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan lingkungan.
Lonjakan titik panas (hotspot) terpantau sangat tajam pada pertengahan tahun ini. Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat mencatat 4.874 titik panas pada Juli 2026, yang menunjukkan kenaikan sebesar 1.897 persen dibandingkan dengan bulan Juni. Wilayah Papua Selatan menyusul dengan 4.220 titik panas, atau mengalami peningkatan sebesar 457 persen. Sementara di Kalimantan Tengah, jumlah titik panas melonjak hingga mencapai 2.821 titik pada Juli 2026, padahal sebelumnya terpantau relatif stabil di kisaran 200 titik per bulan sejak Januari 2026.
Dampak dari karhutla yang terus berulang ini sangat merusak. Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi terus-menerus membuat ekosistem kehilangan kesempatan untuk pulih secara alami. Jenis-jenis vegetasi yang sensitif terhadap api akan semakin berkurang, sedangkan spesies yang lebih toleran terhadap kondisi terbuka dan terganggu akan mendominasi kawasan hutan. Selain itu, kebakaran di lahan gambut merusak lapisan gambut dan mengacaukan fungsi hidrologinya. Ketika tata air terganggu, gambut menjadi semakin kering dan menjadi jauh lebih mudah terbakar di kemudian hari. Secara global, kebakaran hutan dan gambut melepaskan karbon dalam jumlah masif ke atmosfer, sehingga berkontribusi langsung pada perubahan iklim global.
Mengenal Sesar Opak, Patahan Aktif di Balik Gempa Bantul

Kerusakan lingkungan ini juga berdampak nyata pada satwa dan manusia. Hilangnya habitat dan sumber pakan memaksa satwa liar berpindah tempat, kehilangan ruang hidup, hingga mengalami penurunan populasi yang serius. Bagi masyarakat, kabut asap akibat kebakaran sangat mengancam kesehatan kelompok rentan, terutama anak-anak. Paparan asap ini juga menimbulkan risiko tinggi terhadap kehamilan serta memperberat beban domestik kaum perempuan di wilayah-wilayah yang terdampak.
Untuk memutus siklus merusak ini, diperlukan langkah penanganan yang komprehensif. Tatag Muttaqin menyarankan agar fokus penanganan karhutla digeser dari yang sebelumnya didominasi oleh upaya pemadaman api menjadi lebih menitikberatkan pada pencegahan dan pengelolaan lanskap. Sistem peringatan dini juga harus terhubung langsung dengan tindakan nyata di lapangan, sehingga informasi mengenai titik panas dan kondisi cuaca dapat segera direspons di wilayah yang berisiko tinggi. Pengelolaan lahan gambut harus diperkuat dengan menjaga kondisinya agar tetap basah. Selain itu, masyarakat di sekitar kawasan hutan perlu dilibatkan secara aktif melalui edukasi, pemberian insentif, serta penyediaan metode alternatif pengelolaan lahan tanpa pembakaran.
Niat Nonton Tawuran, Pelajar Malah Dibacok

Langkah pencegahan tersebut harus diimbangi dengan penegakan hukum yang konsisten. Evaluasi menyeluruh terhadap sumber api, tata kelola lahan, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab sangat penting agar kebakaran tidak terus berulang tanpa adanya pertanggungjawaban. Dalam hal ini, Putra Saptian mendesak pemerintah melalui Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan untuk segera mengevaluasi izin konversi lahan gambut yang dipegang oleh korporasi skala besar guna mencegah kerusakan yang lebih parah.






