Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kini mulai berdampak hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut ditandai dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah di Sarawak. Penurunan kualitas udara ini mendorong otoritas pendidikan setempat untuk mengambil langkah cepat guna meminimalkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat.
Departemen Pendidikan Sarawak telah memerintahkan penutupan sementara sekolah-sekolah di beberapa wilayah, meliputi Kuching, Padawan, Serian, Samarahan, Bau, Lundu, Sri Aman, dan Lubok Antu. Kebijakan penutupan sekolah ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, terhitung mulai tanggal 20 hingga 21 Agustus 2026. Langkah ini diambil secara khusus untuk melindungi para siswa serta tenaga pendidik dari paparan udara yang tidak sehat akibat asap dari karhutla di Kalimantan.
Selama masa penutupan sekolah tersebut, kegiatan belajar mengajar tidak dihentikan, melainkan dialihkan agar tetap berjalan dari rumah. Para siswa dan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui metode Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR). Penutupan sekolah pada tanggal 20 Agustus 2026 ini merupakan kejadian kedua dalam dua pekan terakhir di Sarawak yang disebabkan oleh ancaman kabut asap. Pada pekan sebelumnya, sekolah-sekolah di wilayah Divisi Serian bahkan sempat ditutup selama tiga hari setelah Indeks Pencemaran Udara (API) sempat menembus angka 200.
Kronologi Masalah Ioniq 5 Aa Juju dan Klarifikasi Hyundai

Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada tanggal 20 Agustus 2026 pukul 13.00 waktu setempat, wilayah Serian mencatat angka API tertinggi yaitu 193. Sementara itu, Kuching mencatatkan angka 190 dan Samarahan mencatatkan angka 173. Berdasarkan pedoman National Haze Action Plan, rentang angka tersebut secara teknis masih berada di bawah ambang batas 200 yang dikategorikan sebagai kondisi sangat tidak sehat. Namun, tingkat pencemaran yang tinggi ini tetap diwaspadai karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Kabut asap yang menyelimuti Sarawak ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah Kalimantan Barat, termasuk Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak. Asap dari wilayah-wilayah tersebut kemudian bergerak menuju wilayah Malaysia. Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara sendiri memang berbatasan darat secara langsung dengan Sarawak dan Sabah, Malaysia.
Kemensos Operasikan Tiga Dapur Umum untuk Korban Gempa di Manggarai Timur

Secara nasional, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang paruh pertama tahun ini tercatat telah menghanguskan sekitar 107.000 hektare lahan dan hutan. Selain itu, lebih dari 116.000 titik panas telah terdeteksi di seluruh Indonesia sejak bulan Januari. Di wilayah Kalimantan Barat sendiri, ribuan titik panas terpantau hingga tanggal 10 Agustus. Peningkatan konsentrasi kabut asap, khususnya partikel halus seperti PM2.5, dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas udara secara signifikan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi warga setempat.






