Kementerian Sosial (Kemensos) telah mengoperasikan tiga dapur umum di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini mulai dilaksanakan sejak tanggal 19 Agustus 2026 untuk memenuhi kebutuhan makan ribuan warga terdampak gempa bumi yang hingga saat ini masih terpaksa mengungsi. Pengoperasian dapur umum ini menjadi krusial mengingat banyaknya warga yang kehilangan tempat tinggal atau tidak dapat beraktivitas secara normal akibat bencana alam tersebut.
Fasilitas penunjang logistik untuk para pengungsi tersebut ditempatkan secara strategis di tiga titik wilayah. Ketiga lokasi tersebut berada di Mano yang terletak di Kecamatan Lamba Leda Selatan, Pota di Kecamatan Sambi Rampas, serta Dampek di Kecamatan Lamba Leda Utara. Ketiga dapur umum yang didirikan oleh Kemensos ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, yakni mampu menghasilkan sekitar 6.000 bungkus makanan siap saji setiap hari. Jumlah produksi makanan tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dua kali waktu makan para pengungsi di wilayah terdampak.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pokok bagi para penyintas gempa bumi merupakan prioritas utama pemerintah selama periode tanggap darurat bencana di wilayah Nusa Tenggara Timur. Untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran, penyaluran bantuan kedaruratan tersebut dilakukan oleh Kemensos melalui Gudang Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur. Dengan koordinasi satu pintu ini, diharapkan pendistribusian makanan dan logistik lainnya dapat berjalan dengan lancar dan tertib.
Kemensos Berikan Layanan Dukungan Psikososial untuk Anak-Anak Korban Gempa di Nagekeo

Selain mengoperasikan tiga dapur umum, Kemensos juga mendistribusikan berbagai jenis bantuan logistik lainnya untuk menyokong kebutuhan hidup harian para korban gempa. Bantuan kedaruratan yang disalurkan meliputi 5 ton beras dan 1.000 paket sembako. Di samping itu, Kemensos juga mengirimkan berbagai jenis perlengkapan pengungsian seperti tiga unit tenda regu, dua tenda pleton, delapan tenda keluarga, dua tenda serbaguna, 35 tenda gulung, serta empat tenda portabel keluarga. Untuk melengkapi fasilitas darurat, turut didistribusikan pula tiga unit dapur umum lapangan, 24 lembar selimut, dan 24 lembar kasur bagi para pengungsi.
Berdasarkan pendataan sementara yang dihimpun hingga tanggal 19 Agustus 2026, dampak dari gempa bumi yang terjadi pada tanggal 15 Agustus lalu di Manggarai Timur tergolong sangat besar. Bencana ini tercatat telah berdampak pada sedikitnya 24.846 keluarga. Dari jumlah keluarga yang terdampak tersebut, sebanyak 19.803 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, dilaporkan pula terdapat korban jiwa dan luka-luka, dengan rincian 25 orang meninggal dunia, 16 warga mengalami luka berat, serta 52 warga lainnya mengalami luka ringan.
Wamensos Ajak Karang Taruna Banten Berkolaborasi Dukung Program Pengentasan Kemiskinan

Kerusakan fisik akibat gempa bumi tanggal 15 Agustus tersebut juga dilaporkan sangat masif dan tersebar di berbagai sektor di Kabupaten Manggarai Timur. Sebanyak 12.423 unit rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan. Tidak hanya pemukiman penduduk, gempa ini juga merusak infrastruktur publik yang vital bagi aktivitas masyarakat. Kerusakan infrastruktur tersebut mencakup 15 ruas jalan, enam unit jembatan, 309 gedung sekolah, 24 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), 42 rumah ibadah, sembilan saluran irigasi, serta 58 fasilitas milik pemerintah di wilayah Manggarai Timur.






