Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) secara resmi menyepakati KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026-2031. Keputusan krusial ini diambil dalam sidang yang berlangsung di Ndalem Kasepuhan Kiai Wahab Chasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Pengumuman hasil kesepakatan tersebut dibacakan langsung oleh salah satu anggota AHWA, Kiai Anwar Iskandar. Ia menyampaikan keputusan resmi forum yang menetapkan kembali Kiai Miftachul Akhyar untuk memimpin jajaran Syuriah PBNU selama lima tahun ke depan. KH Miftachul Akhyar sendiri turut hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU yang diselenggarakan pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Sembilan ulama yang tergabung dalam AHWA ini sebelumnya dipilih oleh para muktamirin melalui mekanisme pemungutan suara dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU. Dalam proses pemilihan tersebut, KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso memperoleh dukungan tertinggi dengan raihan 485 suara.
Yenny Wahid, Demonstrasi dan Chaos Bukan Kultur Nahdlatul Ulama

Anggota AHWA lainnya yang terpilih dan ikut merumuskan kesepakatan ini meliputi TGK KH Nuruzzahir Yahya (Waled NU) yang mengantongi 477 suara, disusul oleh AG Dr. KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara. KH Miftachul Akhyar sendiri masuk dalam jajaran AHWA setelah memperoleh 350 suara.
Selanjutnya, terdapat KH Afifuddin Muhajir yang mendapatkan 339 suara, KH Anwar Iskandar dengan 326 suara, serta KH Anwar Manshur dari Lirboyo yang memperoleh 303 suara. Dua posisi terakhir dalam keanggotaan sembilan AHWA diisi oleh Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj dengan perolehan 273 suara dan Dr. KH Abu Bunyamin, MA yang mendapatkan 268 suara.
KH Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031

Melalui musyawarah mufakat yang dilakukan oleh sembilan ulama terpilih tersebut, kepemimpinan tertinggi jajaran Syuriah PBNU untuk periode lima tahun ke depan kini telah resmi ditetapkan.






