JOMBANG — Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang diwarnai dinamika persidangan hingga ketegangan aksi massa. Menanggapi situasi tersebut, putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid, menegaskan bahwa tindakan anarkis tidak mencerminkan nilai-nilai dasar organisasi. Menurut Yenny Wahid, demonstrasi dan chaos bukan kultur Nahdlatul Ulama.
Yenny menyatakan bahwa aksi demonstrasi yang disertai kemarahan hingga perusakan fasilitas umum sangat bertolak belakang dengan karakter NU. Organisasi berlambang bola dunia ini selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap perbedaan pendapat yang muncul di internal.
Sikap Legawa dan Mekanisme Organisasi
Tensi sempat meningkat ketika sidang pleno AHWA Muktamar ke-35 NU terpaksa ditunda selama delapan jam akibat adanya aksi massa. Menanggapi dinamika ini, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebelumnya telah meminta semua pihak untuk menahan diri demi menyukseskan jalannya muktamar.
Di sisi lain, tokoh NU Gus Yusuf menyatakan menerima dinamika yang terjadi di Jombang dengan legawa. Ia mengimbau para pendukungnya untuk tetap tenang, menjaga keutuhan NU, dan terus berkhidmat kepada organisasi.
Studi, Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Fisik dan Mental Manusia

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa seluruh keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar ke-35 di Jombang bersifat mengikat bagi seluruh anggota. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa keputusan tersebut masih dapat diubah di kemudian hari melalui mekanisme forum tertinggi organisasi yang sah, bukan lewat tekanan massa di jalanan.
Keputusan Strategis dan Netralitas Politik NU
Di tengah dinamika persidangan, Muktamar ke-35 tetap menghasilkan sejumlah keputusan penting. Sembilan anggota AHWA secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah 2026-2031. Selain itu, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PBNU masa bakti 2022-2027 diterima secara aklamasi oleh para peserta muktamar. Dalam forum ini, Gus Yahya juga mewariskan tiga legacy strategis yang ditujukan untuk transformasi tata kelola organisasi serta penguatan peran global NU.
Terkait arah politik organisasi, Yenny Wahid memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan "masa idah politik" bagi para pengurus NU. Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga marwah PBNU agar tetap berjarak dari kepentingan politik praktis. Yenny menekankan pentingnya NU untuk tetap netral, berdiri di atas semua partai politik, dan memfokuskan orientasinya pada politik kebangsaan.
KH Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031

Selain agenda internal organisasi, muktamar kali ini juga menjadi wadah kolaborasi sektor riil. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf turut mengajak Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) serta diaspora Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) untuk memperkuat industri halal nasional melalui ekosistem haji dan umrah.
Rangkaian acara Muktamar ke-35 NU di Jombang ini dijadwalkan akan ditutup secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 31 Agustus.






