Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi memberikan respons terhadap kekhawatiran yang dirasakan oleh warga masyarakat terkait penggunaan air dari kolam budidaya milik warga untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lewat udara atau waterbombing. Langkah pengambilan air dari kolam tersebut terpaksa dilakukan oleh petugas di lapangan demi mempercepat penanganan bencana serta segera memadamkan kobaran api yang membakar lahan agar tidak semakin meluas ke wilayah sekitarnya.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan penjelasan tersebut secara langsung dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan secara daring pada hari Minggu (30/8/2026). Menyikapi kekhawatiran yang timbul di tengah masyarakat, pihak BNPB berjanji akan memperketat koordinasi serta komunikasi di tingkat lapangan sebelum memanfaatkan sumber air milik warga setempat untuk kebutuhan penanggulangan karhutla di masa mendatang.
Koordinasi Lapangan dan Pendekatan Kekeluargaan
Sebagai bentuk tindak lanjut dan penyelesaian masalah di lapangan, BNPB mengonfirmasi bahwa mereka telah menjalin komunikasi secara kekeluargaan dengan pemilik kolam budidaya yang airnya digunakan dalam operasi tersebut. Langkah pendekatan kekeluargaan ini diambil untuk memberikan pemahaman kepada pemilik kolam sekaligus memastikan bahwa hubungan baik antara petugas penanggulangan bencana dan masyarakat sekitar tetap terjaga dengan baik.
Hasil Race Moto3 Aragon 2026, Maximo Quiles Menang, Veda Ega Pratama Finis Ke-20

Hingga saat ini, BNPB mencatat sebanyak 3,2 juta liter air telah dijatuhkan melalui operasi pemadaman udara atau waterbombing tersebut. Seluruh operasi pengeboman air ini difokuskan dan dilaksanakan di enam provinsi yang menjadi prioritas utama penanganan karhutla nasional, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Modifikasi Cuaca di Wilayah Prioritas
Di samping melakukan pemadaman langsung dari udara menggunakan helikopter bom air, BNPB juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai sebanyak 3.800 kilogram garam. Operasi modifikasi cuaca ini ditargetkan secara khusus pada wilayah-wilayah di Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat yang berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terdeteksi memiliki potensi atau bibit awan hujan yang cukup.
Polisi Selidiki Kematian Pria Tertimpa Kanopi saat Rombongan Sound Horeg Melintas di Jember

Secara spesifik untuk wilayah Provinsi Riau, operasi modifikasi cuaca tersebut dilaksanakan selama 4 jam 21 menit dengan menyebarkan sebanyak 2.000 kilogram garam dalam dua sorti penerbangan. Operasi OMC di Riau ini terbukti membuahkan hasil yang baik dengan memicu terjadinya hujan berintensitas ringan di sejumlah daerah terdampak, termasuk di Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak, Kota Pekanbaru, hingga Indragiri Hulu.






