Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menunjukkan pergerakan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pada hari Jumat pagi tanggal 24 Juli 2026, gunung api ini dilaporkan mengalami erupsi sebanyak dua kali. Kejadian ini menandai kelanjutan dari rangkaian aktivitas vulkanik yang terus dipantau oleh pihak berwenang guna mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap wilayah di sekitarnya. Letusan ganda yang terjadi pada pagi hari tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan aktivitas gunung ini sepanjang tahun 2026.
Sebelum peristiwa letusan ganda pada bulan Juli 2026 tersebut, Gunung Lewotobi Laki-laki juga tercatat mengalami erupsi pada awal tahun, tepatnya pada tanggal 5 Maret 2026. Erupsi yang terjadi pada pukul 16.45 WITA tersebut menyemburkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian yang teramati mencapai kurang lebih 1.200 meter di atas puncak gunung. Pada saat erupsi Maret 2026 ini berlangsung, tingkat aktivitas gunung api ini berada pada status Level II (Waspada). Berdasarkan tingkat aktivitas tersebut, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi keamanan yang meminta agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Jika ditarik ke belakang, kondisi aktivitas gunung ini menunjukkan fluktuasi yang cukup dinamis dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya. Pada tanggal 2 Desember 2025, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki sempat ditetapkan dan dipertahankan pada status tertinggi, yaitu Level IV (AWAS). Mengingat bahaya yang lebih besar pada tingkat aktivitas Level IV tersebut, rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh Badan Geologi jauh lebih luas. Pihak berwenang meminta agar masyarakat maupun pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius aman sejauh 6 kilometer dari pusat erupsi, serta radius sektoral sejauh 7 kilometer ke arah barat laut hingga timur laut.
Kemensos dan 3 Institusi Teken MoU Penanganan Korban Napza

Penetapan status Level IV (AWAS) pada akhir tahun 2025 tersebut didasarkan pada hasil pemantauan kegempaan yang sangat intensif. Berdasarkan rekaman data seismik dalam periode antara tanggal 30 November 2025 hingga tanggal 1 Desember 2025 pukul 12.00 WITA, tercatat adanya berbagai aktivitas gempa. Secara rinci, instrumen pemantau mendeteksi adanya 33 kali gempa tremor non-harmonik, 6 kali gempa low frequency (frekuensi rendah), 9 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa tektonik lokal, serta 7 kali gempa tektonik jauh. Data kegempaan yang beragam ini menunjukkan tingginya suplai magma dan tekanan di dalam tubuh gunung pada waktu tersebut.
Selain data kegempaan, indikasi peningkatan aktivitas pada akhir tahun 2025 juga diperkuat oleh hasil pengukuran deformasi tubuh gunung. Pengukuran deformasi menggunakan alat tiltmeter pada akhir tahun 2025 menunjukkan adanya akumulasi tekanan yang terjadi pada sumbu X (tangensial). Di samping itu, pemantauan melalui data Global Navigation Satellite System (GNSS) pada akhir tahun 2025 juga masih memperlihatkan adanya fluktuasi pada komponen vertikal yang terdeteksi selama periode satu minggu. Kombinasi data tiltmeter dan GNSS ini memberikan gambaran ilmiah mengenai perubahan fisik dan tekanan internal yang terjadi pada tubuh gunung sebelum dan selama periode status AWAS tersebut.
Stafsus Yaqut Ishfah Didakwa Perkaya Diri Rp93,6 Miliar di Kasus Kuota Haji

Jauh sebelum rangkaian peningkatan aktivitas yang terjadi pada akhir tahun 2025 dan sepanjang tahun 2026, Gunung Lewotobi Laki-laki sempat mengalami masa jeda erupsi. Sebelum memasuki bulan Desember 2025, peristiwa erupsi terakhir dari gunung ini tercatat terjadi pada tanggal 18 Oktober 2025 pada pukul 00.44 WITA. Rentetan peristiwa mulai dari letusan Oktober 2025, peningkatan status menjadi Level IV pada Desember 2025, penurunan status menjadi Level II dengan erupsi Maret 2026, hingga letusan ganda pada Juli 2026 menunjukkan betapa fluktuatifnya aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki yang memerlukan kewaspadaan dan pemantauan terus-menerus.






