Ancaman krisis iklim global kini bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang siap memukul mundur roda perekonomian di berbagai belahan dunia. Benua Afrika saat ini tengah bersiap menghadapi salah satu tantangan terberatnya seiring dengan proyeksi kedatangan fenomena cuaca ekstrem Super El Nino. Dampak dari fenomena alam ini diperkirakan tidak hanya akan merusak ekosistem lingkungan secara masif, tetapi juga berpotensi melumpuhkan stabilitas ekonomi negara-negara di kawasan tersebut secara signifikan dalam waktu dekat.
Berdasarkan kalkulasi terbaru dari Bank Pembangunan Afrika (AfDB), hantaman Super El Nino kali ini diperkirakan akan menguras kantong negara-negara terdampak hingga mencapai angka yang sangat fantastis, yakni berkisar antara 10 miliar hingga 20 miliar dolar AS. Anthony Nyong, selaku Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau di lembaga keuangan tersebut, menjelaskan bahwa bencana iklim ini secara rata-rata akan memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara yang paling rentan sebesar 1 hingga 2 persen. Kehilangan persentase ekonomi ini menjadi pukulan telak bagi kawasan yang sedang berjuang keras memulihkan pertumbuhan pascapandemi.
Indonesia Optimistis Pertahankan Posisi Emerging Market Lewat Reformasi Bursa

Sektor pertanian dan perikanan, yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan dan sumber pangan utama sebagian besar masyarakat Afrika, berada di garis depan kehancuran. Sepanjang tahun ini saja, para petani di benua tersebut dilaporkan telah kehilangan pendapatan mendekati 330 juta dolar AS akibat kekeringan berkepanjangan yang merusak lahan pertanian mereka secara masif. Di sisi lain, sektor perikanan pun tidak luput dari ancaman serupa. Kenaikan suhu air laut yang ekstrem dipadukan dengan badai yang semakin sering terjadi diproyeksikan akan merusak ekosistem laut dan menghancurkan mata pencaharian para nelayan setempat.
Kondisi darurat ini secara otomatis melipatgandakan kebutuhan dana yang harus disiapkan oleh pemerintah setempat untuk proses adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Nyong mengungkapkan bahwa estimasi kebutuhan dana adaptasi iklim awal yang semula diproyeksikan sebesar 50 miliar dolar AS untuk jangka waktu satu tahun ke depan, kini melonjak drastis. Kehadiran Super El Nino memaksa adanya tambahan anggaran darurat sekitar 30 miliar hingga 50 miliar dolar AS lagi. Akibat lonjakan biaya tersebut, total pembiayaan yang mendesak dibutuhkan oleh Benua Afrika kini membengkak hingga menyentuh angka 100 miliar dolar AS.
Kolaborasi Warga Karawang dan BRI Tanam Puluhan Ribu Mangrove demi Cegah Abrasi

Di luar angka-angka kerugian finansial yang mencengangkan tersebut, terdapat krisis kemanusiaan yang jauh lebih mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian global segera. Super El Nino diprediksi akan menjadi katalis utama terjadinya gelombang migrasi massal dari wilayah-wilayah yang paling parah terkena dampak kekeringan dan cuaca ekstrem. Beberapa negara seperti Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, hingga Nigeria diperkirakan akan menghadapi tekanan sosial yang luar biasa akibat perpindahan penduduk dalam skala besar ini, ketika jutaan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi bertahan hidup.






