Runtuhnya gletser di kawasan tinggi Himalaya pada 26 Agustus 2026 memicu banjir bandang hebat yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet, Cina. Bencana ini bukan sekadar luapan air biasa, melainkan pengingat ekstrem mengenai kerentanan wilayah pegunungan tertinggi di dunia terhadap perubahan suhu global.
Hingga 31 Agustus 2026, data Reuters melaporkan dampak yang sangat masif di Nepal, dengan 903 orang dinyatakan meninggal dunia dan 4.247 lainnya masih hilang. Sementara itu, di wilayah Gyirong, Tibet, Cina, tercatat 16 orang meninggal dunia dan 546 orang dilaporkan hilang. Rangkaian bencana ini juga merusak sedikitnya enam pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama serta infrastruktur penting di pusat perdagangan Gyirong Port.
Sumber bencana diidentifikasi berada di sekitar Langtang Lirung, Nepal, dekat perbatasan dengan Cina. Analisis geologi dari U.S. Geological Survey (USGS) mengungkapkan bahwa kegagalan lereng yang melibatkan gletser tersebut menghasilkan energi seismik yang setara dengan gempa bermagnitudo 5,2. Material longsoran sempat membendung aliran sungai Lhende Khola yang terhubung ke sistem Bhote Koshi. Akibatnya, debit air melonjak drastis di hilir. Di Galchchi, ketinggian air Sungai Trishuli naik sekitar sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit, sedangkan di Malekhu kenaikan mencapai tujuh meter dalam durasi yang sama. Aliran sungai bahkan berubah hingga lebih dari 100 kilometer ke arah hilir dekat perbatasan India.
Keluarga Sutrimo Tagih Hasil Ekshumasi ke Polda Metro Jaya

Percepatan Pencairan Es di Hindu Kush Himalaya
Bencana besar ini memperjelas tren mengkhawatirkan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2023 mencatat bahwa pemanasan global telah melenyapkan hampir sepertiga tutupan es di pegunungan Nepal hanya dalam waktu sekitar tiga dekade, dengan laju pencairan gletser 65 persen lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.
Kehilangan es ini kian terakselerasi. International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) pada tahun 2026 melaporkan bahwa hilangnya es gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya telah berlipat ganda sejak tahun 2000. Sejak tahun 1975, ketebalan es secara keseluruhan di wilayah tersebut telah menyusut sekitar 27 meter. Direktur Jenderal ICIMOD pada Maret 2026, Pema Gyamtsho, sempat memperingatkan bahwa penggandaan tingkat kehilangan es ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia untuk segera bertindak.
Kemenhaj Blokir Akses Siskopatuh Tiga PPIU untuk Lindungi Jemaah

Kerentanan ini juga ditegaskan oleh Simon Cox, kepala ilmuwan program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand. Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang tidak stabil pada batuan dan es di pegunungan tinggi. Sebelum bencana Agustus 2026 ini, kawasan Himalaya telah berulang kali dilanda bencana serupa, seperti banjir di Gyirong pada






