apriniageosat.co.id
BerandaNasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNationalPopuler
Beranda/Nasional

Banjir Bandang Nepal 2026, Sinyal Krisis Iklim di Himalaya?

Uria Anyi ApuiDiterbitkan 1 Sep 2026 - 05.02 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Banjir Bandang Nepal 2026, Sinyal Krisis Iklim di Himalaya?
Foto/Ilustrasi: Tirto
A-A+

Runtuhnya gletser di kawasan tinggi Himalaya pada 26 Agustus 2026 memicu banjir bandang hebat yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet, Cina. Bencana ini bukan sekadar luapan air biasa, melainkan pengingat ekstrem mengenai kerentanan wilayah pegunungan tertinggi di dunia terhadap perubahan suhu global.

Hingga 31 Agustus 2026, data Reuters melaporkan dampak yang sangat masif di Nepal, dengan 903 orang dinyatakan meninggal dunia dan 4.247 lainnya masih hilang. Sementara itu, di wilayah Gyirong, Tibet, Cina, tercatat 16 orang meninggal dunia dan 546 orang dilaporkan hilang. Rangkaian bencana ini juga merusak sedikitnya enam pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama serta infrastruktur penting di pusat perdagangan Gyirong Port.

Sumber bencana diidentifikasi berada di sekitar Langtang Lirung, Nepal, dekat perbatasan dengan Cina. Analisis geologi dari U.S. Geological Survey (USGS) mengungkapkan bahwa kegagalan lereng yang melibatkan gletser tersebut menghasilkan energi seismik yang setara dengan gempa bermagnitudo 5,2. Material longsoran sempat membendung aliran sungai Lhende Khola yang terhubung ke sistem Bhote Koshi. Akibatnya, debit air melonjak drastis di hilir. Di Galchchi, ketinggian air Sungai Trishuli naik sekitar sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit, sedangkan di Malekhu kenaikan mencapai tujuh meter dalam durasi yang sama. Aliran sungai bahkan berubah hingga lebih dari 100 kilometer ke arah hilir dekat perbatasan India.

Baca Juga

Keluarga Sutrimo Tagih Hasil Ekshumasi ke Polda Metro Jaya

Keluarga Sutrimo Tagih Hasil Ekshumasi ke Polda Metro Jaya

Percepatan Pencairan Es di Hindu Kush Himalaya

Bencana besar ini memperjelas tren mengkhawatirkan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2023 mencatat bahwa pemanasan global telah melenyapkan hampir sepertiga tutupan es di pegunungan Nepal hanya dalam waktu sekitar tiga dekade, dengan laju pencairan gletser 65 persen lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.

Kehilangan es ini kian terakselerasi. International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) pada tahun 2026 melaporkan bahwa hilangnya es gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya telah berlipat ganda sejak tahun 2000. Sejak tahun 1975, ketebalan es secara keseluruhan di wilayah tersebut telah menyusut sekitar 27 meter. Direktur Jenderal ICIMOD pada Maret 2026, Pema Gyamtsho, sempat memperingatkan bahwa penggandaan tingkat kehilangan es ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia untuk segera bertindak.

Baca Juga

Kemenhaj Blokir Akses Siskopatuh Tiga PPIU untuk Lindungi Jemaah

Kemenhaj Blokir Akses Siskopatuh Tiga PPIU untuk Lindungi Jemaah

Kerentanan ini juga ditegaskan oleh Simon Cox, kepala ilmuwan program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand. Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang tidak stabil pada batuan dan es di pegunungan tinggi. Sebelum bencana Agustus 2026 ini, kawasan Himalaya telah berulang kali dilanda bencana serupa, seperti banjir di Gyirong pada

Sumber: Tirto

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Berita Terbaru Lainnya

Keluarga Sutrimo Tagih Hasil Ekshumasi ke Polda Metro JayaKemenhaj Blokir Akses Siskopatuh Tiga PPIU untuk Lindungi JemaahWNI Meninggal Dunia Saat Mendaki Gunung Fuji di JepangBPDP Kenalkan Produk Hilirisasi Kakao di JIFHEX 2026 |Republika OnlineAjaib Group Fokuskan Investasi Rp4,8 Triliun untuk Pengembangan SDM dan Produk di IndonesiaBI dan Bank Sentral Singapura Resmi Operasionalkan Kerja Sama LCTBerawal dari Ekosistem UGM, PT Swayasa Prakarsa (SWAP) Siap Melantai di BEI pada 10 September 2026Polres Muba Bongkar Kasus Migas Ilegal, 22 Orang Jadi Tersangka

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi 路 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional 路 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
  5. 5Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan 路 27 Jul 2026

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap