Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengambil tindakan nyata dengan mengevakuasi dan memindahkan (translokasi) tiga individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Upaya ini dilakukan secara cepat untuk memastikan keselamatan satwa-satwa tersebut dari dampak puncak musim kemarau yang sedang berlangsung, sekaligus meminimalisasi potensi gangguan terhadap habitat asli mereka.
Penyelamatan ini melibatkan kerja sama erat dari tim gabungan. Tim yang turun ke lapangan terdiri dari personel BKSDA Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Tim gabungan ini melangsungkan aksi penyelamatan di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan.
Ketiga orangutan yang ditranslokasi tersebut terdiri dari satu induk betina bernama Mamak Yuni yang berusia sekitar 18 tahun, satu anak jantan bernama Pura yang berusia 8 hingga 10 bulan, dan satu individu remaja betina bernama Yuni yang berusia sekitar 8 tahun.
Praperadilan Ditolak, Kubu Febrie Adriansyah Soroti Administrasi Penyidikan

Dampak Puncak Kemarau dan Pemeriksaan Kesehatan
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menjelaskan bahwa pergerakan satwa menuju area sekitar pemukiman dan perkebunan warga terjadi akibat dinamika kondisi alam pada musim kemarau di sekitar koridor habitatnya. Perubahan kondisi lingkungan ini mendorong satwa untuk keluar dari wilayah hutan guna mencari tempat bertahan hidup.
Sebelum proses translokasi dilakukan, tim dokter hewan dari YIARI melangsungkan pemeriksaan medis secara menyeluruh di lokasi. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan kesiapan fisik satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang aman.
Anggota DPR Temui Massa, Janji Tuntaskan RUU Perampasan Aset

Hasil pemeriksaan medis mengonfirmasi bahwa ketiga orangutan tersebut berada dalam kondisi sehat. Selain itu, mereka juga masih mempertahankan sifat liar yang alami. Dengan kondisi fisik yang baik dan perilaku yang tetap liar, ketiganya dinyatakan sangat siap untuk kembali hidup bebas di kawasan konservasi.






