Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mendapat perhatian serius dari jajaran militer. Guna mengatasi penyebaran titik api yang kian meluas, TNI AU kerahkan pesawat untuk 'water bombing' karhutla di Kalsel sebagai bagian dari dukungan terhadap Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah pemadaman dari udara ini difokuskan untuk menjangkau area-area yang sulit ditembus oleh tim darat.
Mengapa Karhutla di Kalimantan Selatan Meningkat Tajam?
Berdasarkan pemutakhiran data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/8), wilayah Kalimantan Selatan mendeteksi keberadaan 696 titik panas (hotspot).
Fitma Surya Arghani, Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru, mengungkapkan bahwa evaluasi Fire Weather Index (FWI) menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan saat ini didominasi oleh indikator tingkat tinggi atau masuk dalam zona merah. Kondisi lingkungan yang kering membuat lahan menjadi sangat mudah terbakar.
Dari total 696 titik panas yang terpantau oleh BMKG, tingkat kerawanan karhutla terbagi menjadi tiga kategori: - 45 titik berada pada tingkat risiko rendah - 622 titik berada pada tingkat risiko sedang - 29 titik berada pada tingkat risiko tinggi
Kasus Penerimaan Mahasiswa Baru, Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Ditetapkan Sebagai Tersangka

Di Mana Saja Sebaran Titik Panas Utama di Kalsel?
Sebaran ratusan titik panas ini tersebar di berbagai kabupaten di Kalimantan Selatan. Wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi meliputi tiga kabupaten utama: - Kabupaten Banjar: 127 titik - Kabupaten Hulu Sungai Selatan: 115 titik - Kabupaten Tapin: 104 titik
Selain tiga wilayah utama di atas, titik panas juga teridentifikasi di beberapa daerah lain dengan rincian: - Kabupaten Hulu Sungai Utara: 65 titik - Kabupaten Tanah Laut: 58 titik - Kabupaten Hulu Sungai Tengah: 48 titik - Kabupaten Kotabaru: 46 titik
Bagaimana Sinergi dan Langkah Penanganan di Lapangan?
Untuk mengendalikan situasi, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, memimpin kesiapan armada udara dalam mendukung operasi pemadaman. Metode water bombing menjadi andalan untuk melokalisasi kobaran api agar tidak terus meluas ke area hutan dan lahan gambut lainnya.
Dalam pelaksanaannya, TNI bersinergi dengan unsur Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta instansi terkait lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini dilakukan agar penanganan titik panas di darat maupun udara dapat berjalan secara terintegrasi.
Prabowo Subianto Jadi Saksi Pernikahan Sespri Rizky Irmansyah

Upaya Serupa di Palembang dan Kesiapsiagaan Armada
Operasi pemadaman kebakaran hutan oleh TNI AU tidak hanya berlangsung di Kalimantan Selatan. Penanganan serupa juga diterapkan di wilayah Palembang, Sumatera Selatan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana menjelaskan bahwa proses pemadaman di Sumatra Selatan dilakukan oleh jajaran Pangkalan TNI Angkatan Udara Sri Mulyono Herlambang (SMH). Misi pemadaman ini bermula setelah petugas mendeteksi keberadaan beberapa titik api saat melakukan patroli udara di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Untuk mendukung kelancaran operasi di lapangan, TNI AU bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, BMKG, Forkopimda, serta instansi daerah terkait. Armada helikopter milik TNI AU tetap disiagakan di lokasi untuk melakukan pemadaman hingga seluruh titik api karhutla berhasil diatasi sepenuhnya.






