Pemerintah memastikan stok beras nasional aman untuk mengatasi dinamika fenomena iklim El Nino. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andri Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang lebih dari 5 juta ton diklaim dapat meminimalisir dampak dari fenomena iklim tersebut, terlebih BMKG menyebut bahwa El Nino 2026 berpotensi sangat kuat.
Cadangan Beras Nasional Capai Rekor Tertinggi
Dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (25/8), Amran menyatakan bahwa cadangan beras kita sebesar 5,1 juta ton merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia. Selain itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kesiapan pangan Indonesia menghadapi El Nino 2026 dengan stok CBP sebesar 5,2 juta ton tanpa impor. Saat ini, CBP yang dikelola oleh Perum Bulog bahkan telah mencapai 5,3 juta ton, yang menandai capaian tertinggi dalam sejarah pengelolaan cadangan pangan nasional.
Kondisi ketahanan pangan dalam negeri yang kuat ini menjadi sangat krusial di tengah melonjaknya harga beras dunia. Sebagai contoh, harga beras di Jepang saat ini telah mencapai Rp100 ribu per kilogram. Selain kenaikan harga, ketegangan geopolitik global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah turut mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan global.
Percepatan Penyaluran Bantuan Pangan dan SPHP
Untuk mengamankan pasokan serta menjaga stabilitas harga beras nasional, Bapanas mempercepat penyaluran program Bantuan Pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Upaya ini membuahkan hasil positif, di mana Bapanas mencatat bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras tetap terkendali didukung oleh stok CBP sebesar 5,2 juta ton. Program bantuan pangan beras ini akan terus dilanjutkan mulai Juli 2026 demi menjaga stabilitas harga secara berkelanjutan.
Arti Mimpi Tersandung di Jalan dan Makna di Baliknya

Stabilitas pasokan pangan juga dipastikan merata hingga ke tingkat daerah. Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel melaporkan bahwa stok CBP di wilayah Sumatra Selatan dalam kondisi cukup untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan lokal.
Penyaluran Bantuan Beras Bencana untuk NTT
Selain untuk menjaga stabilitas pasar secara umum, pasokan beras juga digelontorkan oleh Perum Bulog untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 24 Agustus 2026, Bapanas telah menambahkan alokasi bantuan beras bencana dan bantuan pangan beras reguler untuk 7 kabupaten terdampak di NTT menjadi total 9,98 ribu ton, dengan perkiraan nilai mencapai Rp139 miliar.
Alokasi bantuan sebesar 9,98 ribu ton di NTT tersebut terdiri dari alokasi program bantuan bencana sebesar 1,32 ribu ton dan program bantuan pangan beras reguler sebesar 8,65 ribu ton. Alokasi bantuan bencana sebesar 1,32 ribu ton tersebut dihitung berdasarkan kebutuhan 265.375 jiwa dengan rincian 300 gram beras per orang per hari selama 14 hari masa tanggap darurat di tahap pertama. Merujuk pada Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2026, jumlah beras untuk program bantuan bencana ini dapat ditetapkan sebesar 5 kilogram per jiwa untuk alokasi masa tanggap darurat selama 14 hari.
Menhut Raja Antoni Jelaskan Alasan Tak Ikut Kunjungan Presiden Prabowo ke Kalimantan dan Sumatera

Pengetatan Mutu Beras dan Koreksi Harga Pangan Lain
Di samping fokus pada distribusi bantuan, pemerintah juga memperketat pengawasan kualitas beras di pasar. Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menginstruksikan pencabutan izin edar bagi beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar gizi SNI dan dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sementara itu, di sektor pangan lainnya, dinamika pasar juga memengaruhi komoditas peternakan. Melemahnya permintaan selama bulan Suro sempat membuat harga ayam dan telur mengalami koreksi di tingkat peternak.






