Hiruk pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) seketika ditampar kabar duka dari salah satu unit hunian aparatur negara. Di tengah detak jarum jam yang terus berdetak mengejar target pemindahan, sebuah keheningan justru menyergap dari Rumah Susun ASN di Penajam Paser Utara. Bukan karena ditinggal penghuninya beraktivitas, melainkan karena seorang pejuang komunikasi publik, yang selama ini menjadi jembatan informasi bagi masyarakat, mengembuskan napas terakhirnya dalam kesendirian. Panggung besar pembangunan ibu kota baru ini tiba-tiba kehilangan salah satu narator utamanya.
Kesunyian di salah satu tower rusun itu pecah ketika rasa curiga berubah menjadi panggilan darurat. Seorang petugas resepsionis menyadari adanya anomali: sebuah kamar yang tak kunjung merespons, terkunci rapat dari dalam. Laporan itu mengalir ke petugas pemadam kebakaran yang kebetulan sedang bertugas di kawasan tersebut. Tanpa pikir panjang, petugas berinisiatif mencari akses alternatif. Melalui jendela yang tidak sepenuhnya terkunci, ia akhirnya berhasil mengintip ke dalam. Pemandangan di balik kaca itu sontak mengikis harapan; seorang pria terbujur tak bergerak di atas peraduannya. Tubuh itu adalah Troy Harold Yohanes Pantouw, Juru Bicara Otorita IKN.
Hening di Hunian Pusat Ibu Kota, Juru Bicara Otorita IKN Berpulang Tanpa Pesan Terakhir

Begitu komunikasi darurat tersambung ke aparat keamanan, prosedur standar langsung bergerak maju. Tidak berselang lama, tim dari Satuan Polisi Pamong Praja melalui bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) serta Satuan Tugas Penegakan Hukum merapat ke lokasi untuk mengamankan lingkungan sekitar. Polsek Sepaku pun tiba tak lama berselang untuk memimpin olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Skema investigasi awal ini berlangsung tanpa perlawanan berarti, karena sejak pandangan pertama, tidak ada jejak kekerasan yang menghiasi jasad almarhum. Hipotesis awal aparat langsung menjauh dari kriminalitas, mengerucut pada satu kemungkinan yang lebih personal.
Narasi tentang kondisi fisik Troy sebelum peristiwa nahas itu pun perlahan terangkai dari ingatan para saksi. Bukanlah sebuah rahasia jika pria yang pernah malang melintang sebagai jurnalis di Surabaya itu dalam beberapa hari terakhir bergulat dengan rasa tidak nyaman di tubuhnya. Kapolresta IKN, Kombes Supriyanto, mengonfirmasi bahwa almarhum sempat mengeluhkan sakit nyeri lambung yang cukup mengganggu aktivitasnya selama tiga hari terakhir. Fakta ini seakan melukiskan potret seorang pekerja keras yang mungkin terlalu bersemangat mengawal proyek strategis nasional hingga menomorduakan sinyal bahaya dari organ tubuhnya sendiri. Dedikasi yang ia tumpahkan sejak menjabat sebagai Chief of Public Communication rupanya menyimpan ongkos mahal di balik layar.
Saat Tembok Dagang Berdiri di Antara Dua Sahabat Lama

Setelah seluruh prosedur identifikasi dan pemeriksaan awal dituntaskan, jenazah Troy Pantouw dievakuasi dengan penuh kehati-hatian menuju Rumah Sakit Umum Hermina. Pihak berwenang memilih untuk tidak mengambil tindakan invasif lebih lanjut sebelum keluarga inti yang sedang terbang dari Jakarta itu tiba. Penantian di rumah sakit itu menjadi momen yang penuh sesak; sebuah pengingat bahwa di balik mega proyek yang didengungkan, ada sekelompok kecil manusia yang memikul beban fisik dan emosional luar biasa. Kepergian Troy bukan hanya kehilangan bagi Otorita IKN, tetapi juga serpihan kisah tentang harga yang harus dibayar para pengawal transisi ibu kota.






