Tahun 2026 diwarnai oleh berbagai tantangan ekonomi global, mulai dari ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah, tekanan pada harga minyak dunia, hingga laju inflasi global yang masih membayangi. Di tengah situasi pasar yang dinamis ini, para investor dituntut untuk lebih cermat dalam menempatkan dana mereka. Terkait hal tersebut, instrumen reksa dana dan unit link tetap dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin mengoptimalkan portofolio investasi mereka.
Strategi investasi di tengah ketidakpastian global ini dibahas secara mendalam dalam program Power Lunch di CNBC Indonesia pada Jumat, 24 Agustus 2026. Dalam dialog yang dipandu oleh Shania Alatas tersebut, Presiden Direktur Infovesta Utama, Edbert Suryajaya, memaparkan pandangannya mengenai langkah-langkah yang perlu diambil oleh para investor di tengah kondisi pasar saat ini.
Menyelaraskan Investasi dengan Profil Risiko
Menurut penjelasan Edbert Suryajaya, instrumen reksa dana masih menjadi salah satu pilihan investasi yang mampu menawarkan imbal hasil yang cukup menjanjikan bagi masyarakat. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa setiap keputusan investasi tidak boleh diambil secara gegabah. Penempatan dana pada instrumen reksa dana maupun unit link harus disesuaikan secara matang dengan tujuan investasi jangka panjang serta profil risiko yang dimiliki oleh masing-masing investor.
Otorita IKN dan PT Indobox Cinematic Buana Sepakati Pembangunan Bioskop di Nusantara

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan tekanan inflasi global menuntut investor untuk mengenali batas toleransi risiko mereka sendiri. Dengan memahami profil risiko, investor dapat memilih produk investasi yang paling sesuai agar tidak mengalami kerugian yang di luar batas kemampuan mereka dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Pilihan Reksa Dana Saham vs Pendapatan Tetap
Bagi investor yang memiliki profil risiko agresif dan menargetkan pertumbuhan nilai aset yang tinggi, reksa dana saham masih menjadi pilihan yang sangat menarik. Instrumen ini menawarkan potensi pertumbuhan imbal hasil yang cukup tinggi di masa depan. Namun, potensi keuntungan yang besar ini juga diikuti oleh tingkat risiko yang sebanding. Oleh karena itu, reksa dana saham dinilai tidak begitu cocok untuk investor yang berkarakter konservatif atau mereka yang mengutamakan stabilitas modal.
Ada Bank di Bekasi Izinnya Baru Dicabut OJK, Ini Namanya

Di sisi lain, bagi kelompok investor konservatif yang lebih mengutamakan keamanan dana investasi mereka, reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi opsi yang lebih rasional. Meskipun pertumbuhan imbal hasil dari reksa dana pendapatan tetap ini tidak sebesar potensi yang ditawarkan oleh reksa dana saham, instrumen ini menawarkan tingkat kestabilan yang lebih baik di tengah situasi ekonomi global tahun 2026 yang masih dipenuhi ketidakpastian.






