PT Freeport Indonesia bersiap mengaktifkan kembali fasilitas pemurnian Manyar yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur. Setelah sempat menghentikan operasionalnya secara total sejak Desember 2025, smelter ini direncanakan akan kembali beroperasi secara bertahap mulai September 2026.
Langkah pengaktifan kembali ini didukung oleh mulai masuknya pengiriman konsentrat tembaga dari fasilitas tambang PT Freeport Indonesia di Papua. Konsentrat yang dikirim dari Papua tersebut saat ini sedang dikumpulkan di Manyar untuk memastikan volumenya mencukupi sebelum proses pembakaran dan pemurnian resmi dimulai kembali.
Mengapa Operasional Smelter Manyar Gresik Sempat Terhenti?
Perjalanan operasional Smelter Manyar di Gresik menghadapi sejumlah tantangan operasional dan alam sejak pertama kali dibangun. Fasilitas pemurnian ini sebenarnya telah memulai operasional terbatas pada Juni 2024, dan telah memproduksi hasil olahan konsentrat dari tambang Papua pada Agustus 2024.
Namun, pada Oktober 2024, terjadi kebakaran di area smelter, tepatnya pada unit gas cleaning plant. Unit ini memiliki fungsi penting untuk menangkap emisi gas SO2 yang dihasilkan dari tungku pembakaran (furnace) agar tidak mencemari udara bebas, sekaligus memprosesnya menjadi asam sulfat. Setelah insiden kebakaran tersebut, PT Freeport Indonesia segera melakukan perbaikan hingga fasilitas dinyatakan siap untuk kembali berproduksi pada Mei 2025.
Perluas Akses Keuangan PMI, BRI Resmi Meluncurkan Aplikasi BRImo Taiwan

Tantangan berikutnya muncul pada September 2025 ketika terjadi bencana alam berupa longsor lumpur bijih basah di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Longsor ini berdampak langsung pada terhentinya pasokan konsentrat tembaga yang dikirimkan ke smelter di Gresik.
Akibat terhentinya pasokan bahan baku dari Papua, Smelter Manyar hanya dapat mengolah sisa stok konsentrat yang masih tersimpan di dalam gudang penyimpanan. Setelah sisa stok tersebut habis dimurnikan, smelter akhirnya berhenti beroperasi secara total pada Desember 2025 karena kekosongan pasokan konsentrat. Selama periode henti total tersebut, PT Freeport Indonesia memanfaatkannya untuk melakukan pemeliharaan serta perbaikan menyeluruh demi memastikan kesiapan fasilitas saat pasokan konsentrat kembali mengalir.
Bagaimana Rencana Pemulihan Operasional Smelter Freeport?
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa Smelter Manyar dijadwalkan akan mulai memproduksi katoda tembaga (copper cathode) kembali secara bertahap pada September 2026.
Pada tahap awal pengoperasian kembali tersebut, kapasitas output produksi smelter akan dimulai di bawah 30 persen. Secara keseluruhan, kapasitas operasional awal pada September 2026 akan dimulai di bawah 50 persen. PT Freeport Indonesia kemudian akan meningkatkan kapasitas operasional ini secara bertahap hingga ditargetkan dapat beroperasi penuh mencapai 100 persen pada akhir tahun 2027.
Tangga Lipat Aluminium Turun Harga Jadi Rp1,19 Juta di Transmart Hari Ini

Untuk memulai proses pembakaran tersebut, pasokan konsentrat tembaga dari Papua kini sudah mulai dikirimkan dan masuk ke fasilitas penyimpanan di Manyar. Pengumpulan ini dilakukan agar volume konsentrat mencukupi batas minimum sebelum tungku peleburan dinyalakan kembali.
Berapa Nilai Investasi Pembangunan Smelter Manyar?
Fasilitas pemurnian di KEK JIIPE Gresik ini merupakan salah satu proyek strategis dengan nilai investasi yang sangat besar. Pembangunan Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia ini menelan biaya investasi mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp58 triliun.
Investasi besar ini dialokasikan untuk membangun infrastruktur pemurnian modern, termasuk unit pengolahan konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga serta unit gas cleaning plant yang berfungsi mengolah emisi SO2 menjadi asam sulfat guna mencegah pencemaran udara. Dengan rencana operasional bertahap mulai September 2026, fasilitas ini diharapkan dapat kembali berkontribusi penuh pada akhir tahun 2027.






