Setelah menyelesaikan masa pengabdian selama dua periode atau sepuluh tahun di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali membagikan prinsip hidupnya selama berkarier di panggung politik. Politikus senior ini menekankan bahwa ranah politik seharusnya tidak pernah dijadikan sebagai ladang untuk mencari penghidupan materi.
Menurut Ahmad Ali, jika politik menjadi tempat mencari nafkah, sudah pasti hal tersebut salah. Prinsip ini ia pegang teguh selama menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat.
Pengelolaan Gaji Legislator dan Biaya Reses
Selama menjabat sebagai anggota DPR, Ahmad Ali mengaku tidak pernah mengetahui secara pasti berapa jumlah nominal gaji bersih yang ia terima setiap bulannya. Ia menjelaskan bahwa seluruh pendapatan resminya dari parlemen dialokasikan kembali untuk membiayai berbagai agenda kunjungan kerja serta menemui konstituen di daerah pemilihannya di Sulawesi Tengah.
Dalam pelaksanaannya, dana yang dibutuhkan untuk turun ke lapangan sering kali melebihi anggaran resmi yang disediakan. Biaya operasional reses Ahmad Ali dilaporkan kerap membengkak hingga mencapai dua kali lipat dari total gaji yang ia terima sebagai anggota dewan.
BNI wondrX 2026 Hadirkan PBSI Experience, Dekatkan Penggemar dengan Atlet Bulu Tangkis

Permintaan Maaf Terbuka di Akhir Masa Jabatan
Menandai berakhirnya masa bakti sepuluh tahun di parlemen, Ahmad Ali mengunggah surat permohonan maaf terbuka yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah melalui media sosial. Langkah ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas amanah yang telah diembannya.
Melalui unggahan tersebut, ia secara terbuka meminta masyarakat untuk mengingatkan dan menegurnya apabila masih ada janji-janji kampanye atau komitmen politik yang belum sempat terpenuhi sepanjang dua periode masa jabatannya.
Rekam Jejak Sosial dan Yayasan Insan Cita
Ahmad Ali lahir di Desa Wosu, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang berkecukupan. Kendati memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan di Jakarta, rasa asing dan kekhawatiran terhadap situasi Ibu Kota pada masa itu sempat menghalangi mimpinya untuk kuliah di sana.
Jalan Tegar Beriman-Bomang Ditargetkan Tersambung Lewat Flyover pada 2027

Setelah berkiprah di tingkat nasional, Ahmad Ali memusatkan perhatiannya pada aksi sosial dan keagamaan di tanah kelahirannya. Melalui Yayasan Insan Cita Indonesia, ia menginisiasi berbagai program pendidikan, termasuk mendirikan pesantren gratis bagi para penghafal Al-Quran. Hingga saat ini, tercatat sekitar 107 penerima manfaat telah mendapatkan bantuan studi untuk menyelesaikan pendidikan di jenjang sarjana, magister, hingga doktor.
Selain fokus pada sektor pendidikan, ia juga berkontribusi dalam kegiatan keagamaan dengan memberangkatkan sekitar 700 imam masjid di Sulawesi Tengah untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Ahmad Ali juga turut menyalurkan bantuan untuk merenovasi sekitar 200 masjid di wilayah tersebut. Guna memastikan seluruh program sosial ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan, ia mendirikan Ahmad Ali Center sebagai lembaga independen yang berdiri terpisah dari dirinya.






