Sistem pengendalian banjir di Jakarta kini bertumpu pada sinergi infrastruktur dari hulu hingga hilir. Tiga komponen utama yang menjadi tulang punggung sistem ini meliputi bendungan, sodetan sungai, dan stasiun pompa air. Namun, efektivitas infrastruktur ini terus diuji oleh peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin, mengungkapkan bahwa infrastruktur pengendali banjir di Jakarta umumnya dirancang untuk mengantisipasi curah hujan dengan kapasitas 100 hingga 150 mm. Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan di Jakarta telah meningkat hingga mencapai 150 sampai 250 mm akibat dampak perubahan iklim.
Integrasi Hulu-Hilir dan Peran Sodetan Ciliwung
Untuk mengatasi beban debit air yang kian tinggi, pengelolaan aliran air dibagi dari wilayah hulu di Bogor hingga hilir di Jakarta. Di area hulu, pengendalian banjir dilakukan di wilayah Bogor dan sekitarnya, termasuk operasional Bendungan Sukamahi di Jawa Barat yang dibangun dan dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Selain itu, koordinasi pemantauan dilakukan di Bendung Katulampa yang dikelola bersama oleh Dinas SDA Jawa Barat dan Suku Dinas SDA Jakarta Selatan.
Tol Baru Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi Segera Dibuka, Dua Seksi Kantongi SLO

Aliran air dari hulu tersebut kemudian dikelola saat memasuki Jakarta, salah satunya melalui proyek sodetan Ciliwung penanganan banjir Jakarta. Berlokasi di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, Sodetan Ciliwung ini beroperasi di bawah kewenangan Kementerian PU untuk mengalihkan debit air sungai.
Pengerukan Kanal Banjir Barat oleh Pemprov DKI
Di samping pengelolaan hulu, upaya normalisasi di hilir terus berjalan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung mulai melakukan pengerukan besar-besaran di Kanal Banjir Barat pada Jumat (10/4/2026). Area ini menjadi fokus penting karena merupakan titik pertemuan antara Kali Ciliwung dan Kali Krukut.
Jalan Tegar Beriman-Bomang Ditargetkan Tersambung Lewat Flyover pada 2027

Proyek pengerukan ini mencakup segmen sepanjang 3,8 kilometer, mulai dari Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy), Jakarta Pusat. Dengan target penyelesaian selama satu tahun, volume pengerukan ditargetkan mencapai sekitar 178.000 meter kubik.
Langkah pengerukan ini mendesak dilakukan lantaran Kanal Banjir Barat sudah lama tidak dikeruk. Akibat pembiaran tersebut, sebagian bantaran kali sempat beralih fungsi dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk aktivitas pemancingan hingga pembuatan empang.






