Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menemukan material nuklir dalam jumlah beberapa ton di Suriah. Penemuan ini berhasil dilakukan setelah pemerintahan baru di negara tersebut melaporkan lokasi keberadaan material nuklir itu kepada pihak IAEA. Melalui langkah kooperatif ini, pemerintah baru Suriah menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan IAEA dalam menangani warisan aktivitas nuklir yang berlangsung selama puluhan tahun di bawah pemerintahan keluarga Assad. Langkah ini diambil setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan dari kekuasaannya pada akhir tahun 2024.
Proses pelaporan keberadaan material tersebut dilakukan secara sukarela oleh pemerintah Suriah kepada IAEA pada tanggal 17 Juli 2026. Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, menjelaskan bahwa pada tanggal 17 Juli, pihaknya mengirim surat resmi kepada badan tersebut. "Kami menyatakan atas kehendak bebas kami sendiri adanya material nuklir di lokasi yang tidak diumumkan dalam warisan yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya," jelas Asaad al-Shaibani. Pernyataan tersebut disampaikan oleh al-Shaibani dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi di Damaskus.
BCA Expo 2026 Digelar di 7 Kota, Intip Promo Menariknya

Meskipun telah dilaporkan secara sukarela, temuan material nuklir dalam jumlah berton-ton ini tetap menjadi perhatian serius bagi IAEA. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan keprihatinannya mengenai potensi penyalahgunaan material tersebut. "Kita berbicara tentang beberapa ton material nuklir yang dapat digunakan untuk tujuan yang buruk," ungkap Rafael Grossi. Di sisi lain, pihak pemerintah Suriah memberikan klarifikasi dan mengatakan bahwa material nuklir yang dilaporkan tersebut tidak berbahaya.
Terkait dengan pengelolaan ke depannya, disepakati bahwa material nuklir tersebut akan tetap berada dalam penguasaan Suriah. Namun, penguasaan ini harus berjalan dengan jaminan serta pengawasan dari pihak IAEA. Asaad al-Shaibani menegaskan kesiapan negaranya untuk menjaga keamanan material tersebut. "Kami akan menyediakan kondisi yang diperlukan untuk menangani bahan nuklir dan menyimpannya dengan aman," kata al-Shaibani. Selain itu, pihak Suriah juga menegaskan hak mereka untuk menggunakan material tersebut untuk kepentingan sipil dan tujuan damai.
Kecelakaan Maut Bus Tabrak Truk di Brasil, Sedikitnya 21 Orang Tewas

Isu mengenai aktivitas nuklir di Suriah sendiri bukanlah hal yang baru bagi dunia internasional. Sebagai contoh, pada tahun 2007, Israel pernah menyerang sebuah fasilitas di Deir ez-Zur yang diduga merupakan reaktor nuklir Suriah. Dengan adanya laporan sukarela dan kerja sama antara pemerintahan baru Suriah dengan IAEA saat ini, diharapkan pengelolaan material nuklir warisan rezim sebelumnya dapat berjalan dengan aman dan transparan di bawah pengawasan internasional.






