Industri minyak nabati global saat ini tengah menghadapi tantangan besar akibat ketidakseimbangan antara laju pasokan dan permintaan. Berdasarkan data pergerakan pasar, dalam rentang waktu lima tahun terakhir dari 2020 hingga 2025, laju pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia telah melampaui pertumbuhan produksinya. Produksi global tercatat hanya tumbuh rata-rata sekitar 2,6 persen per tahun, sementara tingkat konsumsi masyarakat dunia melonjak hingga rata-rata 2,7 persen per tahun.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai potensi defisit pasokan di masa mendatang. Apabila tidak ada ekspansi atau pembukaan lahan baru, produksi minyak nabati secara global diproyeksikan akan mengalami stagnasi di kisaran 227 juta ton hingga tahun 2050 mendatang. Di sisi lain, tren konsumsi justru diperkirakan akan terus merangkak naik, dengan proyeksi mencapai 245 juta ton pada tahun 2030 dan melonjak drastis hingga 365 juta ton pada tahun 2050. Kesenjangan yang lebar ini menuntut adanya solusi peningkatan produktivitas pada lahan yang sudah ada.








