Pada hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2026, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang oleh gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7. Peristiwa gempa bumi yang mengguncang wilayah NTT ini menjadi perhatian serius karena kekuatannya yang cukup besar. Berdasarkan analisis awal, aktivitas gempa bumi tektonik yang terjadi pada hari Sabtu tersebut berkaitan erat dengan aktivitas dari struktur tektonik aktif yang dikenal sebagai Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur ini merupakan salah satu sesar aktif yang membentang ratusan kilometer di dasar laut kawasan Nusa Tenggara.
Sesar Naik Busur Belakang Flores, yang juga kerap disebut sebagai Flores Back-Arc Thrust, merupakan sistem sesar naik yang terletak di dasar laut di sebelah utara Pulau Flores. Struktur geologi aktif ini memiliki bentangan yang sangat panjang di bawah laut. Jalur patahan naik ini memanjang dari wilayah utara Pulau Flores dan terus tersambung hingga mencakup kawasan Sumbawa, Lombok, hingga ke Bali. Keberadaan sistem sesar naik yang membentang luas di dasar laut ini menjadikannya salah satu faktor utama yang memengaruhi tingkat kerawanan gempa di kawasan Kepulauan Nusa Tenggara dan sekitarnya.
PLN Pulihkan Kelistrikan Pascagempa Flores, 429 Gardu Sudah Kembali Nyala

Mengenai karakteristik geologi dari sistem sesar ini, Aji Syailendra memberikan penjelasan yang komprehensif. Beliau merupakan seorang Dosen Teknik Geologi di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat). Menurut penjelasan dari Aji Syailendra, sistem Sesar Naik Busur Belakang Flores memiliki potensi bahaya yang sangat besar. Berdasarkan kajian ilmiah mengenai struktur tektonik tersebut, sistem sesar naik ini diketahui memiliki potensi untuk menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan atau magnitudo sekitar M 7,8 hingga M 7,9. Potensi pelepasan energi sebesar itu menunjukkan bahwa sesar ini terus mengumpulkan tekanan tektonik yang sewaktu-waktu dapat terlepas dalam bentuk gempa bumi kuat.
Secara historis, Sesar Naik Busur Belakang Flores memiliki rekam jejak aktivitas kegempaan yang sangat signifikan di Indonesia. Sistem sesar aktif ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan terjadinya bencana gempa bumi Flores pada tahun 1992 silam. Tidak hanya itu, sistem patahan naik ini pula yang menjadi pemicu utama di balik terjadinya rangkaian gempa bumi Lombok yang terjadi pada tahun 2018 lalu. Dua peristiwa besar tersebut membuktikan bahwa aktivitas pergerakan lempeng di jalur Flores Back-Arc Thrust ini memiliki potensi merusak yang nyata dan berulang dari waktu ke waktu.
BAZNAS Resmikan Rumah Sehat ke-33 di Balekambang Jepara untuk Perluas Akses Kesehatan

Dengan terjadinya gempa bumi Magnitudo 7,7 pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026 di NTT, kewaspadaan terhadap aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores harus terus ditingkatkan. Pemahaman mengenai potensi gempa bumi yang dapat dihasilkan oleh sesar ini, yang menurut Aji Syailendra dari Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat) dapat mencapai Magnitudo 7,8 hingga 7,9, sangat penting untuk terus dikaji. Mengingat jalur sesar ini memanjang dari utara Flores hingga ke Sumbawa, Lombok, dan Bali, serta memiliki riwayat memicu gempa Flores 1992 dan gempa Lombok 2018, pemantauan terhadap aktivitas tektonik di dasar laut utara Flores ini menjadi kunci penting dalam upaya mitigasi bencana di masa depan.






