apriniageosat.co.id
BerandaNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasionalTransportasiBencanaWisataPemerintahanKeperdataanEnergiManajemenSejarahInfrastrukturKeagamaanMetroEdukasiMitigasi BencanaPopuler
Beranda/Ekonomi

Inggris Pertimbangkan Penerbitan Obligasi Perang untuk Danai Anggaran Pertahanan

Nyaring AranDiterbitkan 31 Jul 2026 - 10.10 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Inggris Pertimbangkan Penerbitan Obligasi Perang untuk Danai Anggaran Pertahanan
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pemerintah Inggris tengah mempertimbangkan wacana untuk menerbitkan kembali obligasi perang (war bond) guna mendanai peningkatan anggaran belanja pertahanan negara tersebut. Usulan ini diajukan kepada Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, agar pemerintah dapat mencari alternatif pembiayaan di tengah kebutuhan pertahanan yang mendesak. Langkah ini memicu kembali pembahasan mengenai instrumen keuangan historis yang pernah digunakan negara tersebut pada masa lampau.

Sosok sentral di balik usulan penerbitan obligasi perang ini adalah Andy Haldane, yang merupakan mantan Kepala Ekonom Bank of England. Haldane menilai bahwa skema obligasi perang ini memiliki potensi besar karena dapat menyerap sebagian dari dana simpanan masyarakat Inggris yang saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2 triliun pound sterling. Untuk menarik minat masyarakat agar mau membeli instrumen utang ini, Haldane menyarankan agar pemerintah memberikan insentif pajak yang efektif bagi para investor.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasional

Penggunaan obligasi perang bukanlah hal baru bagi Inggris. Instrumen utang ini sebelumnya pernah digunakan oleh pemerintah Inggris untuk menghimpun dana selama Perang Dunia I. Pada tahun 1914, pemerintah menerbitkan pinjaman perang pertama dengan kupon bunga sebesar 3,5 persen yang dijadwalkan jatuh tempo pada periode tahun 1925 hingga 1928. Namun, penerbitan perdana ini tidak berjalan mulus. Dari target awal penghimpunan dana sebesar 350 juta pound sterling, pemerintah saat itu hanya berhasil mengumpulkan 91 juta pound sterling. Kekurangan dana yang cukup besar tersebut akhirnya ditutup oleh bank sentral Inggris, Bank of England.

Baca Juga

Ternyata AS Tak Dukung Reza Pahlavi Jadi Pemimpin Baru Iran

Ternyata AS Tak Dukung Reza Pahlavi Jadi Pemimpin Baru Iran

Dua tahun setelah kegagalan awal tersebut, tepatnya pada masa kepemimpinan Menteri Keuangan David Lloyd George, pemerintah Inggris mencoba kembali dengan strategi yang berbeda. Lloyd George meluncurkan kampanye penerbitan obligasi perang yang jauh lebih agresif. Salah satu momen penting dari kampanye ini adalah pidatonya di Guildhall pada bulan Januari 1917 untuk mempromosikan pinjaman perang tersebut. Upaya pemasaran yang masif ini terbukti sukses besar dengan menarik sekitar tiga juta investor, yang secara akumulatif menanamkan dana hingga mencapai 2,5 miliar pound sterling.

Meskipun berhasil menghimpun dana besar, penyelesaian utang jangka panjang ini menyisakan cerita tersendiri. Pada tahun 1932, pemerintah Inggris berupaya memangkas beban bunga utang dengan membujuk para investor untuk mengonversi obligasi berbunga 5 persen mereka menjadi obligasi abadi (perpetual bond) yang hanya menawarkan kupon bunga sebesar 3,5 persen. Ketika sisa utang tersebut akhirnya dilunasi sepenuhnya oleh pemerintah pada tahun 2014 dengan nilai total 1,9 miliar pound sterling, nilai investasi riilnya telah menyusut drastis. Investasi awal sebesar 100 pound sterling yang ditanamkan pada tahun 1917 tercatat hanya bernilai sedikit di atas 2 pound sterling pada saat pelunasan di tahun 2014. Walau demikian, hingga tahun pelunasan tersebut, masih terdapat lebih dari 120.000 pemegang obligasi yang sebagian besar merupakan keluarga yang mewariskan surat utang tersebut secara turun-temurun lintas generasi.

Baca Juga

Kondisi Kian Sulit, BMW Berencana PHK Ribuan Karyawan di Jerman

Kondisi Kian Sulit, BMW Berencana PHK Ribuan Karyawan di Jerman

Di tengah wacana hangat ini, pandangan kritis juga muncul dari kalangan politisi senior. Mantan Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, memberikan catatan mengenai instrumen ini. Menurut Sunak, obligasi perang pada dasarnya tidak berbeda dengan instrumen utang konvensional lainnya. Ia menilai bahwa meskipun istilah obligasi perang terdengar bagus dan memiliki nilai historis, pada akhirnya instrumen tersebut hanyalah utang dengan sebutan atau nama yang berbeda. Hal ini menjadi pengingat akan konsekuensi finansial jangka panjang yang harus ditanggung oleh negara di masa mendatang.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

ekonomi globalInggrisobligasi peranganggaran pertahanansejarah keuangan

Berita Terbaru Lainnya

Lionel Messi Kembali Berlatih di Inter Miami setelah Kegagalan di Final Piala DuniaGeely Coolray Resmi Meluncur di GIIAS 2026 Perkuat Pasar SUV IndonesiaTernyata AS Tak Dukung Reza Pahlavi Jadi Pemimpin Baru IranKondisi Kian Sulit, BMW Berencana PHK Ribuan Karyawan di JermanBeban Belanja Pegawai Pemerintah dalam APBN 2025 Melonjak Jadi Rp 512,60 TriliunSetoran PPh Orang Pribadi 2025 Tembus Rp 21 Triliun, Didorong Kontribusi Pekerja Bebas dan Pegawai SwastaTerjaring OTT KPK, Istri Bupati Pemalang Noor Faizah Maenofie Tiba di Gedung Merah PutihDua WNI Korban Penyekapan Operator Scamming di Myanmar Dipulangkan ke Indonesia

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi 路 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional 路 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  4. 4Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan 路 27 Jul 2026
  5. 5Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
Transportasi
Bencana
Wisata
Pemerintahan
Keperdataan
Energi
Manajemen
Sejarah
Infrastruktur
Keagamaan
Metro
Edukasi
Mitigasi Bencana

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap