Gelombang Mikro Juno Buka Tabir Panas Tersembunyi di Perut Io

Nyaring AranPublished 27 Jul 2026 - 04.150 Reads
Bagikan WhatsAppX
Gelombang Mikro Juno Buka Tabir Panas Tersembunyi di Perut Io
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Bulan Jupiter yang penuh letusan, Io, selama ini menyimpan misteri di balik permukaannya yang dikepung api. Kini, instrumen gelombang mikro di wahana Juno milik NASA berhasil menyelinap ke bawah keraknya, menghadirkan peta panas yang belum pernah terlihat sebelumnya. Instrumen yang awalnya dirancang untuk menembus selubung awan tebal Jupiter itu menawarkan cara baru mengintip dapur magma satelit paling bergolak di tata surya.

Pada lintasan jarak dekat di penghujung 2023 dan awal 2024, radiometer gelombang mikro Juno menyelami kedalaman dua hingga enam meter di bawah permukaan Io. Hasilnya mengejutkan: lonjakan suhu lebih dari 22 derajat Celsius hanya dalam beberapa meter lapisan atas. Angka itu jauh melampaui panas yang bisa dijelaskan semata oleh sengatan Matahari. Pemetaan serupa menemukan bintik-bintik lokal yang 10 hingga 20 derajat Celsius lebih hangat dibanding tanah di sekelilingnya, menandakan dapur panas yang tersembunyi tepat di bawah kaki.

Kejutan lain muncul ketika Juno memotret tekstur permukaan. Meski dihiasi gunung-gunung menjulang dan ratusan kawah letusan, sebagian besar wajah Io ternyata sangat mulus. Para peneliti menduga benda langit ini terus-menerus diselimuti abu vulkanik berpori, embun beku belerang, dan material segar yang menutupi lembah-lembah tua. Lanskap purba seperti terhapus, membuat Io ibarat kanvas yang selalu diperbarui oleh erupsi tanpa henti.

Also Read

AS Perketat Aturan Ekspor Cip AI ke China

Panas yang mengalir dari dalam Io bukan berasal dari peluruhan radioaktif seperti yang mendominasi gunung api di Bumi. Sumbernya adalah uluran dan remasan gravitasi Jupiter dalam fenomena yang disebut pemanasan pasang surut. Gaya tarik planet raksasa itu terus-menerus merenggangkan dan memeras Io, menghasilkan gesekan internal yang meluapkan panas, melelehkan bebatuan, dan menyalakan sekitar 400 gunung berapi aktif. Proses serupa diyakini juga menghangatkan lautan bawah tanah di bulan-bulan es seperti Europa dan Ganymede, sehingga menyediakan energi bagi lingkungan yang mungkin ramah kehidupan.

"Penemuan bahwa kita bisa melihat di bawah permukaan bulan berbatu punya implikasi penting untuk mempelajari gunung berapi di Bumi," ungkap Scott Bolton, peneliti utama Juno sekaligus salah satu penulis studi. Ia menambahkan, jika instrumen sejenis diarahkan ke gunung berapi di planet kita, gradien suhu bawah permukaan yang mirip mungkin ikut terungkap, memberi informasi segar tentang cara kerja dapur magma di Bumi. Dengan kata lain, teknologi penembus awan Jupiter kini membuka jendela untuk mengintip jantung vulkanik yang selama ini hanya bisa diamati dari gejala permukaannya.

Also Read

Panggung Pembuktian Klub Legendaris di Kancah Asia Tenggara

Bolton juga menekankan bahwa Io menjadi contoh ideal untuk memahami pemanasan pasang surut di seluruh kosmos. "Proses ini tidak hanya menciptakan objek paling vulkanik di tata surya, tetapi juga memberi bahan bakar bagi lautan di bawah permukaan bulan-bulan planet raksasa," katanya. Sebelumnya, panas yang lolos hanya bisa diamati lewat letusan atau pengukuran permukaan. Kini, dengan teknik gelombang mikro, para ilmuwan dapat melacak perjalanan panas dari interior menuju permukaan, mengungkap mekanisme yang selama ini tersembunyi.

Temuan ini bukan sekadar cerita tentang Io. Instrumen serupa di masa depan berpotensi dimanfaatkan untuk memantau erupsi di Bumi secara lebih dini, merekonstruksi sejarah vulkanisme purba di Mars dan Venus, atau bahkan menembus kerak es Europa dan Ganymede guna mendeteksi lingkungan lautan bawah tanah. Studi lengkap yang telah terbit di Journal of Geophysical Research: Planets itu mengubah alat yang tadinya khusus untuk Jupiter menjadi kunci universal untuk membaca panas di benda-benda langit berbatu maupun beku.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca