Hedge fund Situational Awareness, yang didirikan oleh mantan karyawan OpenAI berusia 25 tahun, Leopold Aschenbrenner, mengalami kerugian besar pada akhir Juli 2026. Dana kelolaan perusahaan tersebut menyusut sekitar 67% sepanjang bulan Juli, yang setara dengan kerugian sebesar US$30 miliar atau sekitar Rp534 triliun.
Strategi Leverage Tinggi dan Perubahan Sentimen Pasar
Sebelum mengalami kejatuhan, Situational Awareness mencatat pertumbuhan dana kelolaan yang pesat, meningkat dari sekitar US$1,5 miliar pada musim panas tahun lalu menjadi lebih dari US$45-miliar (sekitar Rp801 triliun dengan asumsi kurs Rp17.800/US$) pada awal Juli 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh reputasi Aschenbrenner setelah merilis esai mengenai proyeksi perkembangan kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2024.
Dalam mengelola dana tersebut, Situational Awareness menerapkan strategi investasi yang agresif. Perusahaan mengambil posisi beli (long) pada saham-saham produsen cip dan posisi jual kosong (short) pada saham perusahaan perangkat lunak yang dinilai rentan tergerus teknologi baru. Untuk memperbesar nilai taruhan, hedge fund ini menggunakan dana pinjaman (leverage) dengan rasio hingga 3:1 untuk setiap modal sendiri, ditambah dengan penggunaan instrumen derivatif kustom bernama "flex options". Langkah ini didanai oleh sejumlah lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup.
Namun, kondisi pasar berbalik arah pada pertengahan Juli setelah munculnya model AI open-source berbiaya rendah dari China. Saham-saham yang dibeli oleh Situational Awareness, seperti Bloom Energy, Sandisk, dan Nebius, mengalami penurunan harga. Sebaliknya, saham-saham yang mereka short, termasuk Adobe, AppLovin, dan Figma, justru mengalami kenaikan. Hal ini memicu kerugian ganda bagi portofolio perusahaan.
Bos Volkswagen Sebut Kondisi Perusahaan Lebih dari Kritis, Berpotensi Tutup Pabrik

Negosiasi Darurat dengan Citadel
Menghadapi tekanan margin dan kebutuhan likuiditas yang mendesak pada akhir Juli, tim Situational Awareness berupaya mencari dana tunai dengan cepat. Mereka sempat menawarkan penjualan sebagian kepemilikan saham Anthropic senilai US$5-miliar dengan diskon 20% kepada beberapa pihak, termasuk Sequoia, Greenoaks, DFO Management, dan XN.
Secara bersamaan, Situational Awareness juga bernegosiasi dengan Citadel dan Millennium Management untuk menjual portofolio saham likuid mereka. Transaksi akhirnya disepakati dengan Citadel yang dipimpin oleh Ken Griffin, dengan potongan harga sekitar 10% dari nilai pasar. Kesepakatan ini ditandatangani pada pagi hari tanggal 30 Juli, sekitar 20 menit sebelum pasar saham Amerika Serikat dibuka. Setelah transaksi dengan Citadel selesai, rencana penjualan saham Anthropic dibatalkan secara sepihak oleh pihak Aschenbrenner.
Dampak bagi Investor dan Langkah Pemulihan
Akibat kerugian ini, nilai dana kelolaan Situational Awareness menyusut hingga tersisa sekitar US$15 miliar (sekitar Rp267 triliun). Salah satu investor utama mereka, Jane Street, turut menanggung kerugian sekitar US$15 miliar dari kejadian tersebut. Meski demikian, sepanjang tahun berjalan (year-to-date), Situational Awareness dilaporkan masih mencatatkan keuntungan sebesar 80%.
PT DSI Jelaskan Pengenaan Margin Fee dari Eksportir Komoditas Strategis

Di tengah situasi krisis keuangan tersebut, pada akhir pekan yang sama, Aschenbrenner melangsungkan pernikahannya dengan Avital Balwit, yang menjabat sebagai Chief of Staff CEO Anthropic Dario Amodei, di Carmel, California.
Saat ini, manajemen Situational Awareness tengah melakukan evaluasi sistem manajemen risiko dan menemui para investor untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Perusahaan juga mulai membangun kembali portofolionya, termasuk dengan menyuntikkan dana sebesar US$400 juta ke startup Source Foundry serta membeli saham SharonAI.






