PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menekankan pentingnya evaluasi mendalam terhadap implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA). Langkah ini dinilai krusial agar kesepakatan dagang internasional tersebut dapat memperkuat daya saing serta kinerja industri nasional, khususnya sektor baja yang memiliki dampak berantai besar bagi perekonomian.
Pandangan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Dampak Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) terhadap Kinerja Ekonomi dan Industrialisasi Indonesia". Pertemuan ini diselenggarakan di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Kamis (20/8/2026), dan dihadiri langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dampak Berantai Industri Baja bagi Ekonomi Nasional
Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan, menyatakan bahwa setiap kebijakan perdagangan internasional, termasuk FTA, harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kinerja industri dalam negeri. Menurutnya, industri baja memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat signifikan bagi sektor-sektor lainnya.
Laba BUMN Tembus Rp 330 Triliun, Danantara Targetkan Rp 360 Triliun pada 2026

Sebagai gambaran, setiap aktivitas senilai 1 dolar AS di industri baja diperkirakan dapat mendorong sekitar 2,5 dolar AS di rantai pasok. Tidak hanya itu, aktivitas tersebut bahkan mampu menstimulus hingga 13 dolar AS pada berbagai industri terkait. Oleh karena itu, stabilitas dan pertumbuhan sektor baja dinilai menjadi kunci penting bagi industrialisasi di Indonesia.
Akbar Djohan, yang juga mengemban amanah sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) serta Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), menilai perlunya instrumen proteksi yang memadai untuk menghadapi persaingan global yang kian terbuka.
Kanada Siapkan Balasan Tarif terhadap AS, Hubungan Dagang Kedua Negara Memanas

Instrumen Perlindungan dan Pendekatan Berbasis Data
Untuk menjaga kepentingan industri nasional dari dampak negatif perdagangan bebas, diperlukan langkah-langkah mitigasi yang cepat dan tepat. Salah satu instrumen yang dinilai efektif adalah penerapan kebijakan pemulihan perdagangan (trade remedies) secara responsif serta penguatan aturan asal barang (Rules of Origin/ROO). Kedua instrumen ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan bagi produsen domestik.
Di sisi lain, pemerintah menyadari perlunya evaluasi yang objektif terhadap implementasi kerja sama perdagangan ini. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah menyoroti pentingnya penggunaan pendekatan berbasis data dalam mengukur dampak nyata FTA terhadap sektor industri. Melalui basis data yang kuat dan akurat, pemerintah dan pelaku usaha dapat merumuskan kebijakan proteksi maupun kemitraan dagang yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.






