Perum Bulog memastikan bahwa ketersediaan stok beras untuk masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berada dalam kondisi aman. Langkah cepat ini diambil guna menjamin kebutuhan pangan pokok warga di wilayah terdampak tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa total stok beras yang disiapkan untuk wilayah NTT mencapai 93.782 ton.
Penyediaan stok dalam jumlah besar ini merupakan bentuk komitmen pemerintah melalui Bulog untuk mengantisipasi segala kemungkinan kerawanan pangan pascabencana. Dengan jaminan stok ini, diharapkan proses penanganan dampak gempa dapat berjalan dengan lancar tanpa terkendala pasokan pangan.
Bagaimana Kondisi Ketersediaan Stok Beras Bulog di NTT saat Ini?
Pada tahap awal penanganan bencana, Bulog telah memiliki stok beras yang tersimpan di berbagai gudang di wilayah NTT. Saat ini, stok beras yang sudah tersedia secara lokal di NTT tercatat sebanyak 26.336 ton. Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat awal setelah terjadinya bencana alam.
Meskipun stok awal dinilai aman untuk kebutuhan mendesak, Bulog tetap mengambil langkah preventif dengan mempersiapkan tambahan cadangan. Hal ini dilakukan agar pasokan beras tidak mengalami kekurangan jika masa darurat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Dari Mana Saja Tambahan Pasokan Beras Didatangkan?
Untuk memperkuat cadangan pangan di NTT, Perum Bulog melakukan mobilisasi stok beras dari berbagai daerah lain di Indonesia. Melalui skema mobilisasi nasional (movnas), Bulog mendatangkan tambahan beras sebesar 67.446 ton. Tambahan pasokan ini dikirimkan dari beberapa wilayah pengirim dengan rincian sebagai berikut:
Pekanbaru Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Tidak Sehat

- Nusa Tenggara Barat (NTB) menyuplai sebanyak 35.250 ton.
- Jawa Timur mengirimkan sebanyak 20.646 ton.
- Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memasok sebanyak 8.550 ton.
- Jakarta mendatangkan sebanyak 3.000 ton.
Melalui penggabungan antara stok awal yang ada di gudang-gudang NTT sebesar 26.336 ton dan pasokan tambahan dari program mobilisasi nasional sebesar 67.446 ton, maka total ketersediaan beras Bulog di NTT kini mencapai 93.782 ton.
Bagaimana Rincian Proyeksi Kebutuhan Beras untuk Korban Gempa?
Berdasarkan perhitungan dan analisis di lapangan, Perum Bulog memperkirakan total kebutuhan beras di NTT untuk penanganan pascabencana serta program bantuan pangan adalah sebesar 46.368 ton. Alokasi kebutuhan ini dibagi ke dalam beberapa peruntukan guna memastikan penyaluran yang tepat sasaran:
Pertama, alokasi untuk Bantuan Bencana Alam disiapkan sebanyak 1.890 ton. Stok ini akan langsung disalurkan kepada para korban gempa yang membutuhkan bantuan pangan darurat secara cepat.
Kedua, alokasi untuk Antisipasi Perpanjangan Tanggap Darurat disiapkan sebesar 18.900 ton. Jumlah yang cukup besar ini sengaja dialokasikan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perpanjangan masa tanggap darurat hingga 10 kali dari masa darurat standar.
BMKG Deteksi 1.923 Titik Panas di Papua Tengah, Terbanyak di Nabire

Ketiga, alokasi untuk Bantuan Pangan Presiden disiapkan sebesar 25.578 ton. Bantuan ini dialokasikan untuk jangka waktu tiga bulan bagi 852.631 penerima manfaat di NTT, di mana masing-masing penerima manfaat akan mendapatkan bantuan sebanyak 10 kilogram beras setiap bulannya.
Bagaimana Kesiapan Cadangan Beras Pemerintah untuk Jangka Panjang?
Setelah memperhitungkan seluruh proyeksi kebutuhan beras untuk penanganan bencana dan bantuan pangan yang mencapai 46.368 ton, Bulog mencatat masih akan ada sisa stok beras yang cukup melimpah. Sisa cadangan beras di NTT diperkirakan masih tersisa sekitar 47.414 ton.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa sisa cadangan beras yang melimpah ini disiapkan secara matang. Keberadaan sisa stok yang besar ini bertujuan untuk menghilangkan keraguan mengenai kesiapan pemerintah dalam mendukung dan menjamin kebutuhan pangan masyarakat NTT yang sedang tertimpa bencana alam. Dengan demikian, masyarakat dapat fokus pada proses pemulihan pascabencana dengan jaminan ketersediaan pangan yang aman dan terkendali.






