Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan klarifikasi penting mengenai penggunaan data kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa angka desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) harus dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga.
Langkah ini meluruskan pemahaman publik agar tidak menyamakan posisi desil secara mentah dengan tingkat kemiskinan absolut atau jumlah pendapatan riil yang dimiliki oleh sebuah rumah tangga.
Memahami Makna Desil dalam Pemeringkatan Kesejahteraan
Desil pada dasarnya bukanlah ukuran absolut kemiskinan maupun ukuran nominal dari pendapatan atau kekayaan yang dimiliki suatu keluarga. Angka desil menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga jika dibandingkan dengan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi.
Dalam sistem pemeringkatan ini, masyarakat dibagi ke dalam sepuluh kelompok kesejahteraan relatif. Sebagai contoh, jika sebuah keluarga berada pada desil 3, hal ini menunjukkan bahwa keluarga tersebut masuk ke dalam kelompok ketiga dari sepuluh kelompok tingkatan kesejahteraan yang ada.
BPS juga menekankan bahwa keluarga yang dikelompokkan dalam desil yang sama tidak selalu memiliki tingkat pendapatan, pengeluaran, maupun kondisi sosial ekonomi yang persis sama.
Tabungan Simpeda BPD Himpun Dana Rp74,86 Triliun per Juni 2026

Metode Statistik Proxy Means Test dan Multi-Indikator
Untuk menentukan tingkat kesejahteraan keluarga, BPS menggunakan metode statistik yang disebut Proxy Means Test (PMT). Metode ini berfungsi untuk mengestimasi tingkat kesejahteraan berdasarkan karakteristik-karakteristik rumah tangga yang dapat diamati secara langsung.
Pendekatan PMT merupakan instrumen statistik yang juga diterapkan secara internasional. Metode ini sangat diandalkan terutama ketika data lengkap mengenai pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh atau diverifikasi secara akurat.
Penentuan desil tidak hanya didasarkan pada satu indikator tunggal seperti jumlah penghasilan, kepemilikan satu jenis barang, daya listrik, atau jenis pekerjaan saja. Proses pemeringkatan ini mengevaluasi berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama, meliputi: - Kondisi perumahan dan sumber air minum - Bahan bakar serta energi yang digunakan untuk memasak - Kepemilikan aset dan konsumsi daya listrik - Komposisi keluarga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan - Kondisi kesehatan serta keberadaan anggota keluarga dengan disabilitas
Karena penilaian dilakukan secara kolektif terhadap banyak variabel, perubahan pada satu indikator saja tidak akan otomatis mengubah posisi desil suatu keluarga.
Integrasi Keuangan Tradisional dan Kripto Meningkat, Regulasi Jadi Fondasi Utama

Pemanfaatan Data bagi Program Pemerintah
Secara fungsi, desil bertindak sebagai alat pemeringkatan yang membantu pemerintah dalam mengenali kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan posisi kesejahteraan relatif mereka. Informasi ini dapat digunakan oleh kementerian dan lembaga sebagai salah satu dasar untuk menentukan sasaran atau prioritas program kerja sesuai dengan tujuan dan ketentuan masing-masing instansi.
Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa desil bukanlah daftar langsung dari penerima suatu program bantuan pemerintah.
Posisi desil sebuah keluarga juga bersifat dinamis. Posisi tersebut dapat bergeser seiring dengan adanya perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga yang bersangkutan, serta perubahan posisi relatifnya jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga lainnya. Oleh karena itu, relevansi DTSEN harus terus dijaga melalui proses pemutakhiran data secara berkelanjutan.






