Meskipun ekonomi global sejauh ini mampu menahan guncangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, ancaman terhadap sektor energi dinilai masih jauh dari kata selesai. Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan bahwa situasi pasar minyak dunia masih rentan terhadap gejolak baru yang bisa menghambat pemulihan.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dalam konferensi pers menjelang pertemuan tingkat menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026. Menurutnya, keberhasilan melewati fase kritis penutupan Selat Hormuz tidak boleh membuat dunia lengah.
"Guncangan energi ini belum berakhir," tegas Georgieva. Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak yang sewaktu-waktu kembali terjadi berpotensi memicu gelombang inflasi baru.
Kondisi ini menunjukkan kontras yang jelas dengan pergerakan harga minyak belakangan ini. Sejak pertengahan Juni, harga minyak mentah acuan Brent telah melandai dan bertahan di kisaran US$80-90 per barel. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan masa-masa sulit pada musim semi lalu, ketika harga minyak sempat menyentuh puncaknya di level US$118 per barel.
Laba Bersih BTN Tumbuh 40,8 Persen di Semester I/2026 Berkat Transformasi Ekosistem Perumahan

Faktor Penopang Daya Tahan Ekonomi
Ketahanan ekonomi global dalam menghadapi penutupan Selat Hormuz sebelumnya didukung oleh beberapa langkah antisipatif dari berbagai negara. Di antaranya adalah pemanfaatan cadangan minyak dan gas bumi, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, serta penurunan permintaan energi secara umum.
Selain itu, perluasan kapasitas energi terbarukan dan keputusan sejumlah negara untuk kembali mengoperasikan pembangkit listrik berbasis batu bara turut membantu dunia menghindari krisis energi yang lebih parah.
Namun, saat ini perekonomian global berada dalam fase tarik-menarik. Di satu sisi, terdapat tekanan negatif dari potensi gangguan pasokan energi di kawasan Teluk. Di sisi lain, ada dorongan positif dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang mulai merambah ke luar Amerika Serikat. Di AS sendiri, investasi AI terbukti ampuh menjaga kinerja laba korporasi dan belanja konsumen tetap kuat.
Komisi XI DPR Setujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia 2026-2031

Proyeksi Pertumbuhan dan Tantangan Fiskal Global
IMF mencatat bahwa risiko terhadap prospek ekonomi global saat ini lebih seimbang dibandingkan dengan proyeksi pada April lalu, meskipun arahnya masih cenderung ke sisi negatif. Pada Juli lalu, lembaga ini telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3,0%. IMF berencana merilis proyeksi pertumbuhan terbaru pada pertemuan tahunan bersama Bank Dunia di Bangkok pada pertengahan Oktober mendatang.
Di luar masalah energi, stabilitas pasar keuangan juga dibayangi oleh situasi fiskal Amerika Serikat. Pekan lalu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Untuk meredam lonjakan biaya pinjaman tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengambil langkah mengejutkan dengan menggandakan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. IMF sendiri terus mendesak Washington untuk memangkas defisit fiskal guna mengurangi defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan mereka.
Selain menyoroti AS, Georgieva juga mendorong China untuk mereformasi model pertumbuhan ekonominya. Beijing diminta beralih dari model yang sangat mengandalkan ekspor ke pasar global menuju pertumbuhan yang lebih bertumpu pada konsumsi domestik. Guna menganalisis ketimpangan global ini secara lebih akurat, IMF kini tengah menyempurnakan model penilaian neraca eksternal mereka.






