Apakah bertambahnya usia harapan hidup seseorang otomatis menjamin masa tua yang bebas dari penyakit? Pertanyaan ini kerap menjadi perhatian utama ketika membahas kualitas hidup manusia di era modern.
Sebuah laporan ilmiah terbaru memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan populasi global saat ini. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Gerontology and Geriatrics, angka harapan hidup global mengalami kenaikan dari sekitar 68 tahun menjadi 73 tahun sepanjang periode tahun 2000–2019.
Namun, peningkatan ini tidak berjalan beriringan dengan pertumbuhan angka harapan hidup sehat (HALE). Pada kurun waktu yang sama, angka harapan hidup sehat secara global hanya meningkat dari sekitar 59 tahun menjadi 64 tahun.
Jurang Pemisah yang Kian Melebar
Data riset menunjukkan bahwa secara global, peningkatan angka harapan hidup sehat hanya mencakup sekitar 84% dari total kenaikan angka harapan hidup. Artinya, ada sisa usia yang dilewati manusia dalam kondisi kesehatan yang menurun atau didera penyakit.
Niat Sholat Subuh sebagai Makmum, Imam, dan Sendiri

Kondisi ini tidak hanya terjadi di segelintir wilayah. Kesenjangan antara angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat dilaporkan melebar di 181 dari total 185 negara yang dianalisis.
Fenomena ini terlihat semakin nyata pada kelompok lanjut usia. Bagi kelompok usia 60 tahun ke atas, angka harapan hidup mereka tercatat mengalami kenaikan sekitar 1,9 tahun. Sebaliknya, angka harapan hidup sehat untuk kelompok usia yang sama hanya meningkat sekitar 1,4 tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa lansia kini hidup lebih lama, tetapi juga menghabiskan waktu lebih lama dalam kondisi sakit.
Faktor Risiko Kesehatan pada Perempuan
Di samping kesenjangan usia tersebut, terdapat kerentanan spesifik yang dipengaruhi oleh faktor biologis. Salah satu aspek yang disoroti adalah kondisi kesehatan kelompok perempuan yang rentan terhadap penyakit tertentu seiring bertambahnya usia.
Garuda Pertiwi Kalah 0-1 dari Tailan di Final Srikandi Merdeka Cup 2026

Ahli Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terhadap gangguan autoimun. Menurut penjelasannya, kerentanan ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari pengaruh genetik, hormon, hingga faktor sistem imun tubuh yang khas pada perempuan.
Perbedaan biologis dan pelebaran jurang harapan hidup sehat ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global dalam memastikan bahwa umur panjang juga diiringi dengan kualitas hidup yang baik.






