Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kini tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia melalui optimalisasi sektor mineral. Dalam acara MINDialogue yang diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, memaparkan pandangan serta strategi lembaga tersebut dalam mengatasi berbagai tantangan di sektor industri mineral nasional. Acara diskusi tersebut mengusung tema yang sangat relevan dengan arah kebijakan ekonomi nasional saat ini, yaitu "Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI". Dalam kesempatan tersebut, Sigit menjelaskan bagaimana pentingnya memperkuat rantai pasok agar dapat memberikan nilai tambah maksimal bagi negara.
Dalam pemaparannya, Sigit Puji Santosa mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara yang patut bersyukur karena dikaruniai kekayaan alam yang sangat luar biasa. Namun, pemanfaatan kekayaan alam tersebut secara historis masih menghadapi berbagai kendala struktural yang cukup mendalam. Sigit menyoroti bahwa selama era tahun 1970-an hingga 1980-an, aktivitas industri mineral di Indonesia sebagian besar masih bersifat ekstraktif semata. Pada masa itu, kegiatan industri lebih banyak berfokus pada pengambilan bahan mentah dari alam tanpa adanya proses pengolahan lebih lanjut yang optimal di dalam negeri, sehingga nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian nasional menjadi terbatas.
Laporan ILO, 67 Juta Anak Muda di Dunia Diperkirakan Menganggur pada 2025

Kondisi tersebut berdampak langsung pada struktur industri di sektor hilir. Sigit menjelaskan bahwa di masa lalu, terdapat kekosongan atau mata rantai yang terputus (missing link) pada posisi tengah di antara proses produksi hulu dan industri perakitan (assembly) di sektor hilir. Di satu sisi Indonesia melakukan aktivitas ekstraktif di hulu, dan di sisi lain terdapat industri perakitan di hilir, namun bagian tengah yang menghubungkan kedua proses tersebut justru tidak tersedia. Ketiadaan rantai penghubung di sektor tengah inilah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri mineral nasional agar proses hilirisasi dapat berjalan secara utuh dan terintegrasi.
Untuk mengatasi persoalan rantai pasok yang terputus tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah menyiapkan sebuah strategi yang agresif. Strategi agresif ini dirancang khusus untuk mendorong agar program hilirisasi mineral di Indonesia dapat berjalan dengan baik dan efektif. Salah satu pilar utama dari strategi yang disiapkan oleh Danantara adalah dengan melakukan proses integrasi secara menyeluruh, yang mencakup seluruh tahapan dari sektor hulu hingga ke sektor hilir. Melalui integrasi menyeluruh ini, kekosongan di sektor tengah atau "missing link" yang selama ini menghambat dapat diatasi, sehingga seluruh proses produksi dapat berjalan berkesinambungan di dalam negeri.
Pengamat Nilai Perpres Ojol Ciptakan Iklim Usaha yang Sehat

Lebih lanjut, Sigit juga memaparkan faktor-faktor yang menjadi hambatan utama dalam pemanfaatan sumber daya alam Indonesia di masa lalu. Tantangan terbesar yang dihadapi sebelumnya meliputi keterbatasan teknologi serta kapasitas sumber daya manusia yang belum mumpuni untuk mengolah kekayaan alam tersebut secara mandiri. Selain kendala teknologi dan sumber daya manusia, program hilirisasi yang menyeluruh juga membutuhkan investasi dalam jumlah yang tidak sedikit. Namun, dengan hadirnya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Sigit Puji Santosa menegaskan bahwa tantangan investasi yang besar tersebut kini bukan lagi menjadi suatu masalah bagi keberlangsungan hilirisasi di Indonesia.






