Di masa kolonial, rahasia kendali reproduksi perempuan Jawa tersembunyi rapat di balik permainan bahasa yang cerdik. Ketika ginekolog Belanda, Dr. C.H. Stratz, bertugas di Surabaya dan Batavia antara tahun 1887 dan 1893, ia kerap mendengar selentingan tentang kemampuan dukun bayi menghentikan kesuburan. Kunci dari teka-teki medis ini terletak pada istilah "ankat prut"鈥攕ecara harfiah berarti mengangkat perut. Bagi telinga awam atau otoritas kolonial, istilah ini terdengar seperti pijatan pascamelahirkan biasa untuk mengencangkan perut. Namun, di kalangan perempuan Jawa, frasa yang sama menyimpan arti lain yang jauh lebih radikal: manipulasi fisik untuk mencegah kehamilan secara permanen.
Konteks sosial saat itu memang menempatkan dukun sebagai pilar utama kesehatan reproduksi. Sejarawan Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market mencatat bahwa sekolah bidan bentukan pemerintah kolonial di Batavia hanya bertahan singkat dari 1851 hingga 1875. Dengan minimnya tenaga medis resmi, dukun memegang kendali penuh atas persalinan, tidak hanya bagi perempuan pribumi tetapi juga nyonya-nyonya Eropa. Stratz sendiri mengakui keahlian taktil para dukun ini sangat tinggi. Mereka mampu mendeteksi posisi janin hanya dengan meraba perut dari luar, sebuah pencapaian yang bahkan melampaui standar sebagian bidan di Eropa kala itu.








