Mengapa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah setelah sempat menunjukkan penguatan selama dua hari berturut-turut? Pertanyaan ini menjadi perhatian utama para investor saat menyaksikan indeks domestik langsung terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Pada pukul 09.03 WIB, IHSG melemah sebesar 1,02% atau turun 65,61 poin ke level 6.384,22. Penurunan ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya indeks ditutup di level 6.449,83. Koreksi indeks pada perdagangan hari ini terutama dipicu oleh aksi jual yang melanda saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Sebelumnya, saham emiten batu bara ini sempat meroket hampir 20% dalam dua hari perdagangan terakhir. Namun, pada hari ini saham BYAN berbalik longsor sebesar 14,04% ke level Rp14.850 per saham. Penurunan tajam saham BYAN menjadikannya penekan terbesar bagi pergerakan IHSG dengan kontribusi negatif sekitar 50,88 poin. Aksi jual ini terjadi di tengah ramainya rumor mengenai rencana akuisisi saham pengendali sekitar 62,2% saham BYAN oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Terkait hal tersebut, pihak manajemen BYAN telah memberikan klarifikasi bahwa perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi saham oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya.
Digosipkan Mau Caplok Bayan (BYAN), Segini Harta Kekayaan Haji Isam

Selain BYAN, pelemahan IHSG juga diperberat oleh pergerakan sektor energi secara keseluruhan yang menjadi penekan utama indeks dengan penurunan mencapai 5,71%. Saham-saham lain di sektor terkait yang turut menyumbang poin negatif terhadap IHSG adalah Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan kontribusi -1,8 poin, Amman Mineral Internasional (AMMN) sebesar -1,53 poin, serta Dian Swastatika Sentosa (DSSA) sebesar -0,52 poin. Di tengah tekanan tersebut, terdapat beberapa saham yang memberikan dukungan positif untuk menahan pelemahan indeks lebih lanjut, seperti Mora Telematika (MORA) dengan kontribusi 1,12 poin, Bank Mandiri (BMRI) sebesar 0,99 poin, Indokripto Semesta (COIN) sebesar 0,62 poin, dan Chaaroen Pokphand Indonesia (CPIN) sebesar 0,47 poin.
Di sisi makroekonomi domestik, pelaku pasar juga mencermati pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 18-19 Agustus 2026. Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan CNBC Indonesia terhadap 14 institusi, seluruh pihak memproyeksikan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%, melanjutkan keputusan pada bulan Juli 2026 yang lalu. Menjelang pengumuman RDG tersebut, nilai tukar rupiah terpantau bergerak di kisaran Rp17.800 per dolar AS. Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II-2026 yang mencapai US$453,4 miliar atau tumbuh 4,4% secara tahunan. Rasio ULN terhadap PDB tercatat sebesar 30,6%, dengan 82,1% dari total utang tersebut merupakan utang jangka panjang. Meski demikian, terdapat sekitar US$105,9 miliar utang yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu maksimal satu tahun.
IHSG Fluktuatif, Kebiasaan Investasi Pekerja Saat Tanggal Gajian Justru Meningkat

Sementara dari pasar global, ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah turut membayangi pergerakan pasar keuangan. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz terbuka untuk pelayaran bertolak belakang dengan penegasan dari pihak Iran yang menyatakan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut masih ditutup. Situasi semakin memanas setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya kapal yang terkena proyektil tidak dikenal saat keluar dari Selat Hormuz, yang menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan satu orang awak kapal menjadi korban. Akibat ketegangan ini, harga minyak mentah dunia ikut merangkak naik. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,4% pada hari Selasa menjadi US$85,26 per barel, sedangkan Brent menguat 0,17% ke level US$91,02 per barel. Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan di mana harga Brent telah naik 4,53% dalam tiga hari perdagangan terakhir, sementara WTI naik 3,5% dalam empat hari terakhir.






