Bursa saham Nigeria melonjak hampir 60 persen sepanjang tahun ini, sementara arus modal masuk ke negara tersebut menembus angka 23 miliar dolar AS pada tahun lalu. Data dari Biro Statistik Nasional setempat menunjukkan bahwa angka investasi tersebut merupakan yang tertinggi dalam enam tahun terakhir. Namun, di balik meriahnya angka-angka di atas kertas tersebut, realitas kehidupan masyarakat kelas bawah justru bertolak belakang karena terhimpit krisis biaya hidup yang kian mencekik.
Ketimpangan yang mencolok ini terjadi setelah Presiden Nigeria, Bola Tinubu, menjalankan reformasi ekonomi besar-besaran selama tiga tahun terakhir. Pemerintahan Tinubu berkuasa setelah mewarisi delapan tahun kebijakan ekonomi yang tidak lazim di bawah kepemimpinan Presiden Muhammadu Buhari. Reformasi ekonomi yang diusung Tinubu mencakup langkah-langkah drastis seperti penghapusan subsidi bahan bakar minyak, devaluasi mata uang naira, serta pemangkasan subsidi listrik. Sebagai gambaran, pada tahun 2022 saja, subsidi bahan bakar dilaporkan telah menghabiskan sekitar US$10 miliar dari kas negara.
Rincian Bantuan Pemerintah Pusat untuk Pembayaran Gaji ASN di Daerah

Meskipun reformasi ini dinilai penting untuk menyehatkan anggaran, dampaknya sangat memukul kehidupan sehari-hari masyarakat Nigeria. Penghapusan subsidi menyebabkan harga bahan bakar melonjak hingga enam kali lipat, dengan harga bensin rata-rata nasional kini mencapai kisaran 1.600 naira per liter. Kenaikan harga bahan bakar ini memicu lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok. Biaya untuk membuat beras jollof, makanan pokok yang sangat populer di Nigeria, kini telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat Tinubu pertama kali menjabat. Akibat penderitaan yang disebabkan oleh lonjakan biaya hidup ini, sebagian warga bahkan menjuluki Presiden Tinubu dengan sebutan "T-Pain". Bank Dunia memperkirakan bahwa lebih dari separuh penduduk Nigeria hidup dalam kemiskinan pada tahun lalu, melonjak signifikan dibandingkan sekitar 42% pada tahun 2022.
Tekanan ekonomi ini dirasakan langsung oleh masyarakat kelas pekerja. Grace Adama, seorang pekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) kesehatan yang tinggal di Abuja, menceritakan bahwa dirinya hanya menerima gaji bulanan sebesar 135.000 naira, atau sekitar US$99. Pendapatan tersebut sangat sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah inflasi yang saat ini mendekati 16%. Upaya pemerintah untuk meredam inflasi tersebut dilakukan dengan menaikkan suku bunga acuan bank sentral hingga berada di level 26,5%. Di sisi lain, para pekerja juga terus menuntut kelayakan upah. Pada bulan Juni lalu, para pekerja federal menolak usulan upah minimum sebesar 100.000 naira yang diajukan oleh pemerintah.
Mobil China di RI Makin Ganas, BYD Salip Honda, Jaecoo-Geely Mengancam

Sementara rakyat berjuang bertahan hidup, sektor bisnis dan investasi justru menunjukkan gairah baru. Menteri Keuangan Nigeria, Taiwo Oyedele, memimpin kebijakan keuangan di tengah masa transisi ini. Thys Louw, seorang Manajer Portofolio di perusahaan investasi Ninety One, turut mengamati perbaikan sentimen pasar. Selain itu, beroperasinya kilang minyak Dangote di luar Lagos sejak tahun 2024 dengan kapasitas produksi mencapai 650.000 barel per hari turut memberikan angin segar bagi perekonomian nasional. Kendati demikian, keuntungan dari bergairahnya pasar modal ini tidak dirasakan oleh mayoritas penduduk. Bursa saham mencatat bahwa kurang dari 5% warga dewasa di Nigeria yang berinvestasi di pasar modal, menyisakan kesenjangan besar antara pesta investor dan penderitaan rakyat di akar rumput.






