Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyusun skema produksi massal rumah modular tahan gempa dengan menggandeng mitra industri. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi bencana di daerah rawan, terutama Nusa Tenggara Timur (NTT), mengingat letak geografis Indonesia yang berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire).
BRIN sebelumnya telah membangun tiga unit rumah contoh pada periode 2021–2022 yang terbukti tetap kokoh berdiri saat diguncang gempa. Karena tidak memiliki kewenangan untuk memproduksi unit secara mandiri, BRIN diarahkan untuk bekerja sama dengan pihak industri agar rumah tahan gempa tersebut dapat diproduksi dalam skala besar dengan biaya yang lebih terjangkau.
Polisi Amankan 322 Orang Usai Kericuhan Demo di Depan Gedung DPR/MPR

Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan arahan tersebut setelah mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, dan delegasi ilmuwan peraih Nobel di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (28/8/2026). Dalam kesempatan itu, Presiden meminta agar teknologi terapan hasil riset BRIN dapat langsung diterapkan di lapangan.
Gus Yusuf Ajak Peserta Muktamar ke-35 PBNU Bantu Korban Gempa NTT

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Ramos-Horta didampingi oleh Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Roberto Soares dan Penasihat Senior Nelson Gaspar Ferreira Dos Santos. Sejumlah peraih Nobel juga turut hadir, di antaranya Prof. Frances H. Arnold dan Prof. Benjamin List (Kimia), Kailash Satyarthi (Perdamaian), Sir Tim Hunt (Fisiologi), serta Prof. Robert C. Merton dan Prof. James A. Robinson (Ekonomi).






