Polda Metro Jaya menetapkan 48 orang sebagai tersangka terkait kerusuhan yang terjadi setelah aksi penyampaian pendapat di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan pendataan awal, polisi mengamankan 322 orang untuk menjalani pemeriksaan. Kelompok yang ditangkap terdiri atas 162 orang dewasa berusia 18 hingga 40 tahun dan 160 anak berusia 12 hingga 17 tahun.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menjelaskan bahwa dari total tersangka, 45 orang diduga melakukan perusakan fasilitas umum serta penganiayaan terhadap orang maupun barang. Sementara itu, tiga orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka karena kedapatan membawa senjata tajam.
Ayah dan Anak Tewas akibat Ledakan Gas Bocor di Bekasi

Di lokasi kejadian, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa golok, gunting, asahan pisau, 10 lembar PVC, ketapel, 19 mata panah, satu rantai besi, dan empat tongkat bambu.
Pembagian Klaster Pemeriksaan
Penyidik membagi orang-orang yang diperiksa ke dalam tiga klaster. Klaster pertama merupakan anak di bawah umur. Sebanyak 153 anak diserahkan kepada Direktorat Reserse PPA-TPPO Polda Metro Jaya yang dipimpin oleh Kombes Rita Wulandari untuk pendalaman lebih lanjut.
Klaster kedua terdiri atas 91 orang dewasa yang diduga terlibat dalam kerusuhan. Sementara klaster ketiga mencakup 71 orang yang diperiksa terkait dugaan perusakan fasilitas umum dan penganiayaan.
Pengedar Sabu di Kutai Timur Ditangkap, Polisi Sita 40 Paket Siap Edar

Dalam proses penyidikan, polisi menemukan fakta hukum mengenai adanya pihak yang menggerakkan, mendanai, serta merekrut massa untuk kerusuhan tersebut. Polisi juga mengidentifikasi bahwa sebagian orang yang diduga terlibat memiliki afiliasi atau pemahaman dengan komunitas anarko.
Bantahan Penggunaan Pengacak Sinyal
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membantah kabar yang menyebutkan adanya penggunaan perangkat pengacak sinyal (jammer) untuk memutus telekomunikasi di sekitar lokasi demonstrasi. Menurutnya, gangguan jaringan terjadi karena kepadatan massa di lokasi tersebut.






