Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memberikan arahan penting dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya pada Minggu (23/8/2026). Dalam forum tersebut, Presiden kelima Republik Indonesia ini mengingatkan seluruh kader partai agar tidak menempatkan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik mereka.
Selain memberikan peringatan moral, Megawati juga menetapkan target politik yang jelas untuk wilayah Jawa Timur. Ia menargetkan perolehan kursi PDIP di provinsi tersebut setidaknya harus mampu menyamai capaian yang telah diraih pada Pemilu 2019.
Peringatan Ideologis untuk Kader PDIP
Pesan Megawati ini menekankan pentingnya komitmen ideologis di atas kepentingan materi. Dengan menargetkan perolehan kursi minimal setara dengan Pemilu 2019, Megawati menuntut kerja keras dari seluruh elemen partai di Jawa Timur tanpa harus mengorbankan nilai-nilai perjuangan demi kekuasaan semata.
Langkah konsolidasi ini sengaja digelar di Surabaya untuk membangkitkan kembali memori kolektif kader terhadap akar sejarah partai dan bangsa. Jawa Timur, khususnya Surabaya, dinilai memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah perjuangan serta proses pembentukan pemikiran Presiden Pertama RI, Soekarno atau Bung Karno.
Cara Kemenhut Pantau Gajah di Tengah Kebakaran Way Kambas

Surabaya Sebagai 'Dapur Nasionalisme'
Dalam arahannya, Megawati mengingatkan kembali bahwa Bung Karno sendiri yang menyebut Surabaya sebagai "Dapurnya Nasionalisme". Di kota inilah sejarah besar pemikiran kemerdekaan Indonesia mulai digodok.
Pada tahun 1916, Surabaya sudah menjadi pusat kapitalisme global. Di tengah situasi tersebut, Bung Karno menyelesaikan pendidikannya di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru kepada tokoh pergerakan nasional, H.O.S. Tjokroaminoto.
Meneladani Perjuangan Masa Muda Bung Karno
Megawati menggambarkan bagaimana prihatinnya kehidupan masa muda Bung Karno saat menimba ilmu di Surabaya. Bung Karno tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dan hanya menggunakan penerangan lampu teplok yang sangat sederhana.
Banyuwangi Jadi Percontohan Nasional Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Meski hidup dalam keterbatasan fisik, ruang gerak intelektual Bung Karno tidak terbatas. Melalui buku-buku, Bung Karno berdialog secara intelektual dengan berbagai tokoh dan pemikir dunia, seperti Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atat眉rk, hingga Jean-Jacques Rousseau.
Melalui pergulatan pemikiran di kamar sempit itulah, Bung Karno yang baru berusia 16 tahun mulai berimajinasi dan memantapkan langkah untuk memperjuangkan Indonesia Merdeka. Kisah keteladanan ini dihadirkan kembali oleh Megawati sebagai refleksi agar kader PDIP masa kini tidak kehilangan arah dalam berpolitik.






