BANYUWANGI — Kabupaten Banyuwangi dinilai berhasil mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program Banyuwangi Hijau. Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa pengelolaan sampah di Banyuwangi termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia, sehingga sangat layak untuk dikembangkan sebagai model percontohan nasional.
Apresiasi tersebut disampaikan oleh Zulkifli Hasan saat melakukan kunjungan kerja ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Balak yang berlokasi di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Keberhasilan sistem pengelolaan sampah di wilayah ini juga telah menarik perhatian dunia internasional. Terbukti, Banyuwangi menerima bantuan pengelolaan sampah dari berbagai pihak luar negeri, termasuk negara Austria, Norwegia, dan Uni Emirat Arab (UAE).
Kolaborasi Internasional dan Sejarah Program
Program Banyuwangi Hijau sendiri tidak tumbuh dalam semalam. Program ini merupakan evolusi dari Proyek STOP yang telah berjalan di Kecamatan Muncar sejak tahun 2018. Keberhasilan awal proyek tersebut kemudian dikembangkan lebih luas hingga mencakup wilayah lainnya di Banyuwangi.
Dalam pelaksanaannya, program ini dibagi menjadi beberapa fase dengan dukungan dari berbagai mitra internasional. Pada fase pertama dan kedua, negara Austria dan Norwegia memberikan dukungan penuh untuk pembangunan infrastruktur persampahan di daerah tersebut. Salah satu bentuk dukungan nyata adalah pembangunan infrastruktur vital seperti TPST Blak. Fasilitas pengolahan sampah ini dirancang dengan kapasitas pengolahan yang cukup besar, yakni mampu memproses hingga 80 ton sampah per hari.
Pesan Megawati dari Jejak Bung Karno di Surabaya

Memasuki fase ketiga yang dimulai pada tahun 2024, giliran Uni Emirat Arab yang menyalurkan dukungannya. Bantuan dari Uni Emirat Arab ini secara khusus diarahkan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga ke hilir, guna memastikan pengelolaan yang berkelanjutan.
Sistem Pengelolaan Terpadu dari Hulu ke Hilir
Keunggulan dari sistem pengelolaan sampah di Banyuwangi terletak pada integrasi proses yang melibatkan peran aktif masyarakat secara langsung. Sistem pengelolaan ini tidak hanya berfokus pada pembuangan akhir, melainkan mencakup rantai proses yang matang.
Rantai proses tersebut dimulai dari edukasi masyarakat secara intensif untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan. Selanjutnya, warga didorong untuk melakukan pemilahan sampah langsung dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga masing-masing. Untuk mendukung hal tersebut, dilakukan penyediaan sarana dan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Sampah yang telah dipilah kemudian diangkut menggunakan transportasi khusus secara terpilah agar tidak tercampur kembali, sebelum akhirnya masuk ke proses pengolahan di fasilitas yang tersedia.
Cara Kemenhut Pantau Gajah di Tengah Kebakaran Way Kambas

Jangkauan dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Penerapan sistem yang terstruktur ini terbukti memberikan dampak nyata bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan di Banyuwangi. Hingga bulan Mei 2026, Program Banyuwangi Hijau tercatat telah berhasil menjangkau sebanyak 73 desa.
Cakupan layanan dari program ini juga terus meluas, kini telah melayani 23.410 rumah tangga atau mencakup sekitar 500.000 jiwa penduduk Banyuwangi. Selain itu, fasilitas TPS 3R Balak juga menunjukkan kinerja yang luar biasa dengan menerima dan mengolah lebih dari 14.145 ton sampah sejak pertama kali beroperasi. Dengan pencapaian ini, Banyuwangi sukses memantapkan posisinya sebagai pelopor pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat nasional.






